Makam Palestina Digali demi Satu Jenazah Israel, Dunia Membisu

- Kamis, 29 Januari 2026 | 11:25 WIB
Makam Palestina Digali demi Satu Jenazah Israel, Dunia Membisu

Israel menggali ratusan makam Palestina demi satu jenazah warganya. Dunia? Hanya terdiam.

Benjamin Netanyahu tampil penuh kemenangan. Pada hari Selasa itu, Perdana Menteri Israel itu menyebutnya sebuah "pencapaian luar biasa". Yang dia maksud adalah operasi militer yang berhasil mengembalikan jasad Ran Gvili, warga Israel yang tewas pada 7 Oktober 2023, dari sebuah pemakaman di Gaza utara.

Layar televisi Israel ramai dengan rekaman tentara mereka. Mereka bernyanyi, berdiri di atas tanah kuburan yang baru saja mereka bongkar. Di media Barat, momen ini digambarkan sebagai sesuatu yang penting, bahkan disebut-sebut sebagai bagian dari "penyembuhan" nasional Israel.

Tapi di Gaza, "penyembuhan" versi Israel itu berwajah lain sama sekali.

Menurut sejumlah saksi, empat warga Palestina ditembak mati di sekitar lokasi. Ratusan makam lainnya hancur berantakan. Bayangkan saja: tulang-belulang berserakan di antara puing nisan. Ratusan keluarga Palestina kini harus menghadapi kenyataan pahit: mencari sisa-sisa jenazah orang yang mereka cintai di antara reruntuhan. Setidaknya empat keluarga terpaksa menguburkan kembali sanak saudaranya bukan karena usia, tapi karena ulah tentara.

Operasi yang diklaim "standar" ini sebenarnya adalah pelanggaran berat. Jelas-jelas melanggar Konvensi Jenewa yang mewajibkan penghormatan terhadap jenazah dan tempat peristirahatan terakhir. Ini kejahatan perwar.

Bagi warga Palestina, serangan ke makam bukan cuma soal pelanggaran hukum. Ada pesan politik yang keras di sana: bahwa mereka tak hanya boleh dibunuh, tapi juga dihinakan, bahkan setelah napas terakhir.

Dan ini bukan insiden satu-satunya.

Sejak perang berkecamuk, Israel secara sistematis telah meratakan dan menggali pemakaman di seantero Gaza. Hingga Januari 2024, setidaknya 16 kompleks pemakaman Palestina sudah dirusak. Alasannya selalu sama: "kepentingan militer". Namun foto satelit dan laporan lapangan membuktikan hal lain. Pemakaman-pemakaman itu diratakan, lalu dijadikan pos militer.

Kalau memang soal keamanan, lantas bagaimana dengan pemakaman di Tepi Barat? Wilayah itu bukan zona pertempuran, tapi makam-makam di sana juga kerap diserang.

Ambil contoh awal bulan ini. Sekelompok warga Israel merusak makam di pemakaman Muslim Yerusalem. Lalu ada lagi peristiwa Januari 2023, ketika pemakaman Kristen tempat para tokoh penting dimakamkan juga dirusak di kota yang sama. Tak ada Hamas di sana. Tak ada pertempuran. Yang ada cuma kebencian yang seolah dapat pembenaran.

Kekejian ini bahkan menyasar jenazah itu sendiri. Tahun lalu, Israel mengembalikan ratusan jasad warga Palestina ke Gaza. Banyak dari jenazah itu menunjukkan bekas penyiksaan. Beberapa bahkan dimutilasi hingga tak bisa dikenali lagi. Otoritas Gaza akhirnya menguburkan mereka dalam kuburan massal sebuah pemandangan yang mengingatkan pada kejahatan terhadap kemanusiaan.

Ada lagi praktik keji: menahan jenazah. Israel kerap menahan jasad warga Palestina, mencegah keluarga mereka memakamkannya dengan layak. Ini bentuk hukuman kolektif yang disengaja. Bahkan jenazah dari era perang 1967 pun masih banyak yang ditahan. Pada 2019, Mahkamah Agung Israel malah melegalkan praktik ini. Dalihnya, jenazah bisa jadi alat tawar-menawar.

Intinya, tubuh orang mati dijadikan komoditas politik.

Semua ini penodaan, penggalian, mutilasi, penahanan jasad punya satu tujuan yang menyedihkan: menghapus ingatan, merampas hak berkabung, dan meluluhlantakkan martabat. Ini bukan sekadar kekerasan fisik. Ini serangan simbolik yang dirancang untuk menghina dan mematahkan semangat.

Lalu, di mana suara dunia internasional?

Hampir tidak terdengar.

Kejahatan terhadap jenazah Palestina ini nyaris tak mendapat perhatian. Bandingkan dengan pemberitaan luas saat pemakaman tawanan Israel. Media Barat menyajikan narasi haru, foto penuh empati, dan liputan mendalam. Sementara, keluarga Palestina yang mengais-ngais tanah untuk menemukan sisa tulang anaknya? Itu dianggap bukan berita.

Tidak ada sorotan global. Tidak ada kemarahan moral yang berarti.

Kita sudah menyaksikan berbagai kekejaman. Tapi yang membuatnya semakin parah adalah keheningan yang menyelimuti. Keheningan yang justru seperti memberi izin untuk kekerasan berikutnya.

Ironis, bukan? Rakyat Palestina sampai hari ini masih harus berteriak mengingatkan dunia pada prinsip paling dasar: bahwa makam adalah tempat suci, dilindungi hukum internasional. Termasuk makam orang-orang Palestina.

Amal Abu Seif, Penulis dan peneliti Palestina dari Gaza.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler