Larry Si Kucing Curi Perhatian Saat Prabowo Bertemu Starmer

- Rabu, 21 Januari 2026 | 11:06 WIB
Larry Si Kucing Curi Perhatian Saat Prabowo Bertemu Starmer

Larry Si Kucing dan Diplomasi di Nomor 10

Halaman 10 Downing Street yang biasanya penuh dengan kesan serius, mendadak mendapat sentuhan lain. Semuanya berubah ketika Presiden Prabowo Subianto tiba untuk menemui Perdana Menteri Keir Starmer. Suasana resmi itu masih terasa, tapi sebentar lagi akan ada kejutan kecil.

Seperti lazimnya, Starmer menyambut tamunya di depan pintu hitam legendaris itu. Jabat tangan hangat, senyum, dan sedikit obrolan ringan sebelum mereka masuk ke dalam. Semua berjalan sesuai protokol. Namun begitu, siapa sangka pertemuan bilateral ini akan disela oleh seorang "figur" yang sangat familiar bagi publik Inggris.

Di tengah kesibukan itu, seekor kucing berbulu putih keabu-abuan muncul. Ia berjalan santai, bahkan agak angkuh, melintas tepat di depan kedua pemimpin negara. Tak peduli suasana formal, ia melanjutkan patroli hariannya dengan tenang.

Itu adalah Larry. Bukan tamu, melainkan penghuni tetap.

Ya, Larry the Cat sudah lama menetap di sana. Statusnya pun bukan main: Chief Mouser to the Cabinet Office. Secara sederhana, dia adalah "Kepala Penangkap Tikas" untuk Kantor Kabinet. Sudah bertahun-tahun kucing ini menjadi bagian dari kehidupan di jantung pemerintahan, jauh lebih lama daripada kebanyakan penghuni manusia di tempat itu.

Kehadirannya yang tak terduga itu berhasil mencairkan suasana. Ekspresi kaku di wajah Prabowo dan Starmer seketika luluh, berganti dengan senyum spontan. Mereka bahkan sempat melirik, mengikuti langkah Larry yang melanjutkan perjalanannya. Sang kucing, tentu saja, tampak acuh tak acuh. Baginya, ini mungkin hanya gangguan kecil dalam rutinitasnya.

Momen itu singkat, tapi mengesankan. Untuk sejenak, diplomasi tingkat tinggi harus berbagi panggung dengan seekor kucing. Dan Larry, dengan gayanya yang khas, mengingatkan semua orang bahwa di balik segala protokol ketat, selalu ada ruang untuk hal-hangat yang tak terduga.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar