Namun begitu, reaksi yang muncul tidak selalu positif. Bagi sebagian kalangan, sentilannya dianggap keterlaluan. Alih-alih membalas dengan karya serupa atau debat terbuka, yang terjadi justru serangan bertubi-tubi dari buzzer-buzzer di media sosial. Dunia maya pun jadi panas.
Fenomena ini seperti mengingatkan kita pada kutipan filsuf Yunani kuno, Plato, yang pernah berkata:
Sepertinya, kata-kata itu masih relevan hingga sekarang. Di sisi lain, popularitas “Mens Rea” justru membuktikan satu hal: ada audiens yang haus akan konten kritis, yang disajikan dengan cara berbeda. Mereka mungkin lelah dengan narasi yang itu-itu saja.
Lalu, apakah ini pertanda baru bagi dunia hiburan Indonesia? Mungkin saja. Yang jelas, Pandji sudah membuka percakapan. Dan percakapan itu, mau tak mau, harus kita hadapi.
Artikel Terkait
Truk Gandeng Melaju Liar, Nyawa Pengendara Motor Melayang di Bondowoso
Peringkat Naik, Tapi Laut Indonesia Masih Rapuh untuk Nelayan Kecil
Bus Besar dan Jalan Sempit: Kemacetan Kronis Kembali Paralyze Sawangan
Pengkhianat dalam Barisan: Saat Aktivis Antipalsu Bertandang ke Istana