Ironi Ridwan Kamil dan Suara Sunyi yang Kini Bergemuruh

- Selasa, 06 Januari 2026 | 21:00 WIB
Ironi Ridwan Kamil dan Suara Sunyi yang Kini Bergemuruh

"Silent Majority Telah Berbicara"
Sebuah Ironi dalam Perjalanan Ridwan Kamil

✍🏻Kang Irvan Noviandana

Di tengah hiruk-pikuk Pilpres kemarin, ada satu unggahan Ridwan Kamil yang sempat menyita perhatian. Ia menyebut kemenangan Prabowo-Gibran sebagai kemenangan silent majority. Satu kalimatnya itu masih terngiang: “Silent Majority telah berbicara.”

Bukan cuma komentar politik biasa. Pernyataan itu terasa seperti kebanggaan, sekaligus penegasan posisi. Bahwa ada mayoritas diam yang akhirnya menunjukkan taringnya.

Namun begitu, ada ironi yang terasa getir sekarang. Ironi itu menyangkut perjalanan Kang Emil sendiri, baik di panggung politik maupun dalam kehidupan pribadinya yang belakangan jadi bahan pembicaraan. Perlu saya tegaskan, tulisan ini bukan untuk ikut-ikutan menghakimi atau mengeksploitasi masalah pribadi. Ini cuma refleksi sederhana atas istilah yang dulu ia banggakan itu: silent majority.

Sebelum masuk lebih dalam, mari kita telusuri sebentar. Sebenarnya, siapa sih yang disebut silent majority itu?

Istilah ini punya sejarah panjang. Dipopulerkan pertama kali oleh Presiden AS Richard Nixon di tahun 1969. Kala itu, ia merujuk pada warga mayoritas yang tak turun ke jalan, tak vokal, tapi dianggap mendukung pemerintah dan stabilitas. Mereka diam, tapi diklaim punya andil.

Di Indonesia, istilah ini menemukan momentumnya pasca-2016, usai kejatuhan Ahok. Mantan Kapolri Tito Karnavian, yang kini Mendagri, memakainya secara resmi dalam sebuah pidato. Ia jadi semacam counter-narrative terhadap kelompok yang suka demonstrasi, oposisi jalanan, dan tekanan politik lewat mobilisasi massa.

Pesan waktu itu jelas: suara yang diam dianggap lebih mewakili ketimbang suara yang ribut.


Halaman:

Komentar