Kalau lewat Jalan Raya Otista di Ciputat, Tangerang Selatan, bersiaplah untuk menghela napas panjang. Sejak Selasa kemarin, pemandangan yang disuguhkan sungguh memprihatinkan. Gunungan sampah setinggi truk dari Pasar Cimanggis membanjiri badan jalan, menyita hampir separuh ruas jalan. Arus lalu lintas pun langsung tersendat parah.
Kendaraan, baik motor maupun mobil, terpaksa merayap pelan. Bau busuk yang menusuk hidung semakin menambah rasa tak nyaman bagi siapa pun yang melintas.
“Ini penyebabnya nih. Makan setengah jalan. Belum lagi depan jalannya jelek,”
keluh seorang pengendara mobil, suaranya terdengar kesal di tengah kepadatan itu.
Masalah Berlapis: Jalan Rusak Parah
Rupanya, masalah tak berhenti di tumpukan sampah itu saja. Sekitar 30 sampai 100 meter dari lokasi, kondisi jalan juga amburadul. Aspal mengelupas di sana-sini, meninggalkan lubang-lubang besar yang siap mengagetkan pengendara. Kombinasi mematikan ini jalan menyempit plus berlubang memaksa kendaraan dari arah Pamulang, Depok, dan Bogor yang menuju Ciputat atau Jakarta merangkak sangat lambat. Kemacetan panjang pun tak terhindarkan.
Dari pantauan di lokasi, tumpukan sampah itu diperkirakan mencapai ketinggian tiga meter. Selain mempersempit jalan, baunya yang menyengat memaksa banyak pengendara motor menutup hidung. Tak jauh dari situ, genangan air di lubang jalan menambah aroma tak sedap. Pengendara harus ekstra hati-hati, agar tidak terpeleset atau terkena cipratan air kotor.
Keluhan Warga dan Pedagang
Bagi Uci (49), seorang pedagang nasi rames di Pasar Cimanggis, kemacetan ini sudah jadi menu harian. Namun, kehadiran gunungan sampah dan kerusakan jalan belakangan ini membuat situasi semakin runyam.
“Macetnya mah setiap hari. Mau pagi atau sore macet terus. Enggak hari libur, enggak hari biasa, emang sering macet di sini,”
ujarnya. Menurut Uci, puncak kemacetannya terjadi pada jam berangkat dan pulang kerja, meski di siang hari arus pun seringkali tak lancar betul.
Pendapat serupa datang dari Budi (47), warga setempat. Ia menilai tumpukan sampah yang menutup sebagian jalan itu memperparah kemacetan, terutama di pagi hari.
“Kalau pagi, pas orang-orang pada masuk kerja. Ini tuh macet karena jalanannya kan ketutup sebelah juga,”
kata Budi. Ia juga menyoroti bahaya jalan yang rusak itu. “Banyak orang yang jatuh di sana,” tuturnya, terutama saat hujan turun dan jalanan jadi licin.
Apa Kata Dinas Terkait?
Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tangsel, Bani Khosiyatullah, sudah mengakui persoalan ini. Penumpukan sampah masih terjadi karena pembuangan ke TPAS Cilowong di Serang masih dalam tahap uji coba. Kuotanya terbatas, hanya 10 truk per hari dengan kapasitas total sekitar 40-50 ton.
“Pengangkutan dilakukan secara bergiliran, belum bisa serentak karena kuota belum optimal,”
jelasnya pada Senin (5/1).
Hingga saat ini, TPA Cipeucang yang diharapkan masih belum beroperasi. Meski pembersihan rutin dilakukan, sampah di Pasar Cimanggis seolah tak pernah habis, terus menggunung. Warga dan pedagang di sana hanya bisa berharap pemerintah segera bertindak. Mengatasi sampah dan membenahi jalan rusak adalah langkah konkret yang dinanti, agar kemacetan tak lagi menjadi cerita yang berulang setiap hari dan aktivitas warga bisa kembali normal.
Artikel Terkait
Menko Hukum Yusril Kecam Keras Penganiayaan Pelajar Maluku oleh Oknum Brimob
Warisan Naskah dan Jejak Dakwah Syekh Abdul Majid di Pelosok Bone Terancam Rusak
Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Reformasi Makassar
Oknum Brimob Ditahan Usai Diduga Aniaya Siswa MTs Hingga Tewas di Tual