Di tengah keramaian Perayaan Natal Nasional di Tennis Indoor Senayan, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sesuatu yang cukup menggelitik. Ia bicara tentang fenomena yang mungkin sudah sering kita dengar: banyaknya pakar yang berkomentar di media sosial dan podcast. Menurutnya, tak sedikit dari mereka yang bicara asal-asalan, tanpa dasar yang jelas.
"Saudara-saudara, ini zaman teknologi ya," ujarnya, Senin malam itu.
Suasana hening sejenak.
"Media sosial ini baik, tapi ada juga kadang-kadang bahayanya. Dengan banyak podcast-podcast, banyak pakar itu bicara asal bicara."
Kritiknya tak berhenti di situ. Prabowo bahkan terkesan geli dengan sejumlah pakar yang mengaku paham betul jalan pikirannya. Seolah-olah mereka punya akses khusus ke benaknya.
"Jadi kadang-kadang kalau saya mau cek kira-kira apa yang dipikirkan Prabowo Subianto, saya cari podcast," candanya, disambut tawa hadirin.
"Ngarang itu dia. 'Prabowo sedang konflik internal dengan ini, nanti dengan itu’. Senangnya ramai, gaduh, padahal enggak ada, saudara-saudara."
Di sisi lain, ia juga menyentil kelompok-kelompok yang ia sebut 'nyinyir'. Namun begitu, nada optimisme tetap ia kedepankan. Pemerintahannya, tegasnya, akan bekerja dengan bukti konkret, bukan sekadar retorika atau janji manis di udara.
"Kita memiliki masa depan yang bagus walaupun ada kelompok nyinyir, iya kan? Enggak apa-apa. Kita akan bekerja dengan bukti, bukan dengan janji saja," tegas Prabowo.
Ia lalu beralih ke satu hal yang menurutnya menjadi bukti keseriusan itu: swasembada pangan. Ini adalah janji kampanye yang ia bawa sejak dulu, dan kini ia klaim sedang diwujudkan dengan langkah nyata.
"Saya tidak berubah," ujarnya mantap.
"Waktu kampanye, swasembada pangan yang pertama. Dan begitu saya jadi presiden, itu fokus saya. Saya beri target kepada tim saya: kita harus swasembada beras empat tahun. Itu target saya."
Lalu, dengan nada bangga, ia menyampaikan kabar yang mungkin ingin didengar banyak orang. Menurut sejumlah data yang ia pegang, target ambisius itu tercapai lebih cepat dari rencana.
"Di Perayaan Natal ini, saya dengan bangga bisa menyampaikan... begitu lewat 31 Desember 2025, bangsa Indonesia sekarang sudah swasembada beras. Tahun 2025 kita tidak impor beras sama sekali."
Pencapaian ini, lanjutnya, bukan hanya untuk Indonesia. Ada dampak global yang ia soroti. Dengan berhenti mengimpor, Indonesia dianggap telah berkontribusi menstabilkan pasar dunia.
"Target empat tahun kita bisa capai dalam waktu satu tahun. Dan kita bantu tidak hanya bangsa Indonesia, kita membantu dunia. Kenapa? Dengan kita tidak impor beras, harga beras dunia turun, turun ratusan dolar. Jadi banyak negara berterima kasih sama kita."
Pidato itu pun berakhir. Pesannya jelas: di tengah bisingnya opini yang kadang mengada-ada, ia ingin menonjolkan kerja dan hasil yang menurutnya sudah terlihat.
Artikel Terkait
Bandara Koroway Batu Beroperasi Kembali dengan Pengamanan Ketat Pasca Insiden Penembakan Pilot
ASDP Terapkan Diskon Tiket dan Tarif Tunggal untuk Mudik Lebaran 2026
Wakil Ketua BS OJK Soroti Kontradiksi Nilai Ramadhan dengan Korupsi Rp310 Triliun
Anggota Polri Meninggal dengan Luka Mencurigakan, Propam Polda Sulsel Lakukan Visum dan Pemeriksaan