Kasus Ijazah Jokowi Kian Panas, SBY Didesak Turun Gunung
Tekanan untuk Susilo Bambang Yudhoyono kian menguat. Situasinya memanas, dan banyak yang kini berharap mantan presiden itu segera turun tangan. Soalnya, kasus soal ijazah Presiden Jokowi ini tak kunjung reda, malah makin berlarut-larut.
Menurut sejumlah pengamat, SBY tampaknya masih ragu. Maju tidak, maju tidak seperti menghitung kancing baju. Padahal, ini saatnya ia bertindak. Cap sebagai pemimpin yang plin-plan harus dihapus, jangan dibiarkan menempel begitu saja. Waktunya sudah lewat tiga hari sejak Budhius M. Piliang, yang disebut-sebut terkait Zulfan Lindan, seharusnya dilaporkan ke polisi.
Tujuannya bukan untuk membungkam siapa pun. Bukan itu. Tapi lebih untuk mengimbangi narasi yang selama ini didominasi satu pihak. Jokowi dinilai leluasa mengaduk-aduk opini publik sendirian. Nah, di sinilah peran SBY dibutuhkan. Ia didesak untuk turun gunung, menghentikan drama yang berlarut ini.
Bagaimanapun, SBY akan selalu dikaitkan dengan Roy Suryo dan kawan-kawan. Jejak Roy Suryo di Partai Demokrat memang tak bisa dipungkiri. Belum lagi ada nama-nama seperti Denny Indrayana dan Amir Syamsuddin. Lalu Benny K. Harman juga ikut angkat bicara, meski mungkin hanya sekadar komentar spontan.
Benny pernah membandingkan kasus ijazah Arsul Sani yang sederhana dengan kasus Jokowi yang ruwet ini. Sekilas biasa saja, tapi bagi banyak orang, itu sudah cukup dijadikan bukti keterlibatan Partai Demokrat. Kenapa tidak diam saja seperti kebanyakan politisi lain?
Di sisi lain, SBY sendiri sejak dulu mengingatkan soal bahaya "dua matahari" dalam satu pemerintahan. Satu matahari saja panas, apalagi dua. Peringatan itu kini justru berbalik, dijadikan alasan bahwa SBY ingin meredupkan Jokowi.
Kalau sudah begini, tanggung berendam, mandi sekalian. Tindakan SBY bukan cuma untuk membantu Roy Suryo, tapi juga untuk Prabowo Subianto. Ingat, nama Prabowo ikut terseret dalam kasus ini. Ahmad Ali dari PSI pernah memberi ultimatum agar Prabowo segera menyelesaikan persoalan ijazah Jokowi dan Gibran.
Maksudnya apa, ya? Menyelesaikan seperti cara Jokowi dulu menangani kasus Bambang Tri dan Gus Nur? Atau ada cara lain? Yang jelas, kalau dibiarkan berlarut, Prabowo bisa jadi sasaran empuk dari kedua kubu.
Roy Suryo sebenarnya tak butuh banyak bantuan. Analisisnya selama ini terlihat kuat, belum ada yang sanggup membantah secara tuntas dari pihak UGM maupun kepolisian. Tapi semua masih perlu diuji lebih jauh. Kehadiran SBY lebih untuk menyeimbangkan opini, agar Jokowi tidak seperti menari-nari sendirian di panggung.
Cara turun gunung yang disarankan? Laporkan juga Budhius M. Piliang ke polisi. Itu akan jadi pelajaran berharga, mirip alasan Jokowi melaporkan Roy Suryo. Dua mantan presiden sama-sama mengajarkan proses hukum yang baik pada rakyat.
Jadi, maksudnya bukan untuk berbenturan langsung dengan Jokowi. Apalagi Jokowi sudah bilang bahwa bukan SBY "orang besar" yang ia maksud. Tapi SBY perlu memastikan sendiri. Jangan-jangan, seperti kata pepatah, lain di mulut lain di hati. Sudah dikatakan belum, ternyata iya. Atau sebaliknya.
Penulis: Erizal
Artikel Terkait
Indonesia dan AS Sepakati Perjanjian Dagang Resiprokal, Akses Tarif Nol Persen untuk Ribuan Produk
Ketua MPR Nilai Usulan Parliamentary Threshold 7 Persen Terlalu Tinggi
Pakar Hukum: Warga Berhak Gugat Negara atas Kelalaian Infrastruktur Publik
Pemimpin Kartel CJNG El Mencho Tewas, Kekacauan di Meksiko Picu Peringatan Perjalanan dan Pembatalan Penerbangan