Halal dan Haram: Bukan Cuma Soal Apa yang Kita Makan, Tapi Juga Bagaimana Kita Mendapatkannya

- Senin, 05 Januari 2026 | 14:25 WIB
Halal dan Haram: Bukan Cuma Soal Apa yang Kita Makan, Tapi Juga Bagaimana Kita Mendapatkannya

Belum lagi harta dari pekerjaan haram, judi contohnya. Semua hasil dari aktivitas seperti itu tetap haram, meskipun uangnya dipakai untuk hal yang kelihatannya baik. Prinsipnya, nggak ada keberkahan yang bisa tumbuh dari sumber yang salah.

Peran Ilmu Fikih

Uraian di atas cuma gambaran umum saja. Untuk perincian yang lebih mendalam dan teknis, kita harus merujuk pada ilmu fikih. Ruang lingkup fikih itu luas, nggak cuma mengatur ibadah ritual, tapi juga urusan makanan dan muamalah sehari-hari.

Ambil contoh aturan penyembelihan. Fikih mengatur detailnya agar hewan yang disembelih benar-benar halal untuk dikonsumsi. Begitu juga dengan aturan muamalah, ia menjaga supaya transaksi antar manusia berjalan adil dan nggak ada yang dirugikan. Dari sinilah harta yang halal itu lahir.

Penutup

Jadi, ketentuan halal haram dalam Islam itu nggak sesempit urusan zat semata. Cara memperolehnya pun punya andil besar. Dua hal ini harus sejalan dengan prinsip syariat.

Memahaminya butuh ketelitian dan tentu saja, rujukan yang jelas pada ilmu fikih. Dengan berpegang pada disiplin ilmu inilah seorang Muslim bisa menjaga konsumsinya, bukan cuma dari sisi kebersihan lahiriah, tapi juga kesucian dan keberkahan secara batiniah.

Pada akhirnya, mengamalkan prinsip halal haram adalah bentuk ketaatan sekaligus tanggung jawab moral. Ia adalah upaya untuk menciptakan kehidupan yang bersih, adil, dan penuh nilai ibadah. Wallāhu a’lam.

Zuhaili Zulfa, S.Pd.
Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Halaman:

Komentar