“Watak Washington selalu ingin menciptakan ketergantungan dari negara lain terhadapnya, oleh karena itu jangan terlalu percaya dengan AS.”
M. Amien Rais
Sudah lama Amerika Serikat dipuja sebagai kiblat peradaban modern. Ilmu pengetahuan dan teknologinya maju pesat, klaim-klaimnya soal demokrasi dan moral kerap didengungkan. Tapi sekarang, di bawah kepemimpinan Donald J. Trump untuk kedua kalinya, gambaran itu retak. Yang kita saksikan justru kemerosotan politik yang cukup tajam.
Memang, sejak Perang Dunia II berakhir, AS selalu mengklaim diri sebagai pemimpin dunia bebas. Mereka jadi penjaga tatanan internasional, multilateralisme, dan segala institusi global. Namun belakangan, banyak pengamat yang mencatat kemunduran demokrasi di sana. Istilah kerennya democratic backsliding.
Donald Trump, dalam hal ini, adalah tokoh kuncinya. Retorika America First yang digaungkannya, ditambah penolakan terhadap norma internasional, memunculkan pertanyaan serius. Apakah Amerika kini mundur ke belakang, kembali pada pola imperialisme gaya lama?
Soal imperialisme, definisinya kurang lebih adalah upaya negara kuat mengendalikan negara lain. Caranya bisa lewat militer, ekonomi, atau tekanan politik. Sementara itu, kemunduran demokrasi seringkali dimulai bukan dengan kudeta, melainkan oleh pemimpin terpilih yang perlahan-lahan melemahkan institusi dan hukum.
Nah, Trump sendiri lahir di New York tahun 1946. Latar belakangnya dunia bisnis dan hiburan. Tapi rekam jejak pribadinya kerap jadi sorotan. Ada puluhan tuduhan perilaku tidak pantas, dan faktanya, dia disebut-sebut sebagai presiden AS dengan pernyataan palsu terbanyak. Foto-foto dan kasusnya dengan Epstein pun masih beredar luas di internet.
Seorang psikolog politik, Dan McAdams, pernah menyebut gaya kepemimpinan Trump mencerminkan narcissistic leadership. Semuanya berpusat pada ego, dominasi, dan haus pengakuan. Pola seperti ini, dalam catatan empiris, sering berujung pada kebijakan yang konfrontatif dan merusak tatanan.
Venezuela dan Wajah Imperialisme yang Telanjang
Contoh paling gamblang bisa dilihat dari intervensi AS di Venezuela. Di era Trump, upaya penangkapan Nicolás Maduro dan pernyataan soal transisi kekuasaan di sana menuai kecaman luas.
Noam Chomsky menyebut pola ini sebagai kelanjutan dari praktik imperialisme klasik. Amerika menggunakan narasi demokrasi untuk menutupi maksud geopolitik dan perebutan sumber daya. Venezuela, dengan cadangan minyaknya yang luar biasa, jadi target empuk dalam apa yang disebut resource wars.
Richard Falk, guru besar hukum internasional di Princeton, punya komentar keras. Menurutnya, tindakan semacam ini menggerogoti legitimasi hukum internasional dan membawa dunia kembali ke hukum rimba.
Di sisi lain, Trump punya hubungan erat dengan kelompok Kristen Evangelikal Zionis. Kelompok ini mendukung Israel bukan semata-mata atas dasar politik biasa, tapi juga keyakinan eskatologis yang mendalam.
Kedekatannya dengan Benjamin Netanyahu semakin memperkuat kesan bahwa kebijakan AS di Timur Tengah sudah kehilangan netralitas. Memang, Amerika sejak dulu selalu memanjakan Israel. Ingat saja, Inggris dan AS-lah yang dulu mensponsori berdirinya negara Israel pada 1948.
Dari kacamata akademik, Trump bukan sekadar tokoh kontroversial. Dia adalah gejala dari kemunduran struktural peradaban politik Amerika. Kebijakan luar negeri yang unilateral, pembenaran kekerasan geopolitik, hingga krisis etika pribadinya adalah bukti-bukti yang sulit dibantah.
Seperti dikemukakan seorang pakar, “Bahaya terbesar bagi Amerika bukanlah musuh dari luar, tapi keruntuhan komitmen mereka sendiri terhadap norma-norma yang membesarkannya.”
Amien Rais, pakar politik internasional, menyatakan dengan tegas, “Amerika negara adidaya, membabi buta membela kebengisan Israel. Bahkan di masa Presiden Donald Trump kepentingan Israel dijadikan bagian dari kebijakan nasional Amerika.”
Lebih lanjut dia menambahkan, “Trump dinilai sebagai presiden terburuk sepanjang sejarah AS oleh sejumlah sejarawan dan jurnalis. Kepemimpinannya dianggap berdarah dingin dan sosiopatik suka berbohong dan tidak peduli pada orang lain.”
Pada akhirnya, invasi Trump ke Venezuela mengingatkan kita pada invasi George W. Bush ke Irak tahun 2003. Ada beberapa kemiripan yang mencolok. Pertama, sama-sama bercorak imperialis. Kedua, sama-sama didukung oleh kelompok Kristen Evangelis garis keras yang pro-Zionis. Ketiga, keduanya memicu instabilitas global yang masif.
Warisan Bush adalah lebih dari 500 ribu rakyat Irak tewas dan Timur Tengah yang makin kacau. Sementara Trump mendukung penuh Netanyahu, yang aksinya telah menewaskan puluhan ribu rakyat Gaza dan memanaskan situasi di Amerika Latin. Entah berapa korban lagi yang akan berjatuhan akibat nafsu imperialis yang satu ini. Wallahu azizun hakim.
Nuim Hidayat
Direktur Forum Studi Sosial Politik.
Artikel Terkait
Warisan Naskah dan Jejak Dakwah Syekh Abdul Majid di Pelosok Bone Terancam Rusak
Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Reformasi Makassar
Oknum Brimob Ditahan Usai Diduga Aniaya Siswa MTs Hingga Tewas di Tual
Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Makassar