Awal tahun mestinya diisi dengan harapan baru. Tapi bagi sebagian orang, justru ada rasa waswas yang mengendap. Menyampaikan pendapat, yang dulu dianggap biasa, kini terasa lebih berisiko. Ini terjadi bersamaan dengan mulai berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru. Padahal, dalam demokrasi yang sehat, kritik itu bukan ancaman. Ia justru mekanisme koreksi agar kebijakan pemerintah tidak melenceng dan merugikan banyak orang.
Keresahan ini punya latar sejarah yang panjang. Kita pernah melalui masa di mana suara kritis dibungkam dengan normalisasi ketakutan, menggunakan pasal-pasal hukum untuk membatasi perbedaan pendapat. Memang, situasi sekarang berbeda; pers lebih bebas. Namun begitu, risiko kemunduran demokrasi tetap nyata. Apalagi jika pembatasan itu datang lewat jalur yang legal-formal, seperti aturan hukum baru.
Di sinilah masalahnya menjadi runyam. Ambil contoh Pasal 240 KUHP tentang penyerangan kehormatan pemerintah. Pasal ini menciptakan wilayah abu-abu yang luas. Sebuah kritik tajam bisa dianggap pelanggaran atau tidak, sangat tergantung pada sudut pandang penegak hukumnya. Menurut sejumlah pengamat, ini berbahaya.
Kondisinya makin mengkhawatirkan karena pembaruan hukum tak dibarengi jaminan perlindungan hak warga dalam proses pembuktian. Para ahli menyebut gejala ini sebagai democratic backsliding. Intinya, demokrasi mengalami kemunduran perlahan-lahan, di mana harga untuk menyampaikan kritik menjadi mahal baik secara hukum maupun sosial.
Bayangkan saja. Ketika warga mulai ragu untuk bicara karena takut berurusan dengan hukum, apa jadinya? Esensi kedaulatan rakyat pun melemah. Negara yang kuat seharusnya bukan yang kebal kritik, melainkan yang mampu merespons masukan dengan kepala dingin dan kedewasaan.
Pada akhirnya, demokrasi jarang mati secara tiba-tiba. Ia layu pelan-pelan. Dimulai dari kritik yang dibungkam satu per satu, lalu keheningan dipaksa dianggap sebagai tanda stabilitas. KUHP dan KUHAP baru semestinya hadir untuk memperkuat pondasi keadilan kita. Bukan malah menjadi sumber kecemasan yang membuat semua orang memilih untuk diam.
Artikel Terkait
Tukang Kelet Hewan Kurban Meninggal saat Bertugas di Salatiga, Diduga Kena Serangan Jantung
BMKG: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sebagian Wilayah Sulsel pada Siang hingga Malam
Crystal Palace Juarai UEFA Conference League Usai Kalahkan Rayo Vallecano 1-0
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak