Minggu pagi di Kampung Tugu, Cilincing, riuh rendah dengan tawa. Warga yang kebanyakan dari Komunitas IKBT itu berkumpul, siap melanjutkan sebuah kebiasaan lama: tradisi Mandi-Mandi. Tanggal 4 Januari jadi momennya, sekaligus pembuka tahun.
Bedak berwarna jadi alat utamanya. Bukan untuk dirias, tapi untuk dicorengkan ke wajah satu sama lain. Itulah inti ritualnya. Maknanya dalam: simbol saling memaafkan, menebus dosa dan kesalahan sepanjang tahun yang sudah lewat. Sebuah cara unik untuk mengawali lembaran baru dengan hati yang bersih.
Menurut sejumlah saksi, lokasi acara ini tak selalu sama. Masyarakat setempatlah yang biasa berembuk, menentukan di titik mana Mandi-Mandi akan digelar. Yang pasti, ritual ini selalu jatuh pada hari Minggu di awal tahun. Sudah begitu sejak dulu.
Artikel Terkait
Ketika Panik Menyerang, Mengapa Kita Justru Berlari Menuju Bahaya?
Grup True Crime di Medsos Rekrut 70 Anak Indonesia untuk Ideologi Ekstrem
Keterangan Ahli Goyahkan Gugatan CMNP ke Hary Tanoe
Prabowo Ungkap Godaan Sogok dan Target MBG 2026 di Tengah Sawah Karawang