Bedak dan Tawa: Ritual Mandi-Mandi Warga Kampung Tugu Awali Tahun Baru

- Minggu, 04 Januari 2026 | 16:36 WIB
Bedak dan Tawa: Ritual Mandi-Mandi Warga Kampung Tugu Awali Tahun Baru

Minggu pagi di Kampung Tugu, Cilincing, riuh rendah dengan tawa. Warga yang kebanyakan dari Komunitas IKBT itu berkumpul, siap melanjutkan sebuah kebiasaan lama: tradisi Mandi-Mandi. Tanggal 4 Januari jadi momennya, sekaligus pembuka tahun.

Bedak berwarna jadi alat utamanya. Bukan untuk dirias, tapi untuk dicorengkan ke wajah satu sama lain. Itulah inti ritualnya. Maknanya dalam: simbol saling memaafkan, menebus dosa dan kesalahan sepanjang tahun yang sudah lewat. Sebuah cara unik untuk mengawali lembaran baru dengan hati yang bersih.

Menurut sejumlah saksi, lokasi acara ini tak selalu sama. Masyarakat setempatlah yang biasa berembuk, menentukan di titik mana Mandi-Mandi akan digelar. Yang pasti, ritual ini selalu jatuh pada hari Minggu di awal tahun. Sudah begitu sejak dulu.

Di sisi lain, Mandi-Mandi bukan cuma soal introspeksi diri. Lebih dari itu, ini adalah tanda kesiapan warga menyongsong apa yang akan datang. Semacam penyegaran jiwa sebelum menjalani rutinitas lagi.

Nuansa kebersamaannya terasa sekali. Saling kejar, coreng, lalu tertawa lepas. Hubungan antarwarga makin erat karenanya. Inilah warisan leluhur yang masih bertahan, dijaga turun-temurun di tengah gempuran modernisasi Jakarta.

Kekeluargaan. Mungkin itu kata yang tepat. Semangat itu masih kental terasa di Kampung Tugu, dan Mandi-Mandi adalah bukti nyatanya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar