Dari Minggu sampai Selasa, sosok Indra (55) selalu setia berdiri di perlintasan kereta api Tebet, Jakarta Selatan. Lokasinya persis di antara Stasiun Tebet dan Stasiun Cawang. Dengan tatapan waspada, ia awasi rel dan lalu lintas kendaraan yang silih berganti. Pekerjaan menjaga palang kereta ini ia jalani secara swadaya, sebuah pilihan yang diambilnya sejak pandemi Covid-19 melanda pada 2020.
“Dari Covid, 2020. Udah karatan saya di sini,” ujar Indra suatu Minggu siang, di sela-sela kerjanya.
Sebelumnya, ia adalah sopir angkot. Setelah berhenti mengemudi, langkahnya langsung menuju perlintasan ini. “Udah pas enggak bawa mobil aja. Pas berhenti dari angkot, langsung saya lari ke mari,” kenangnya.
Andalan Hanya Mata Tajam
Tak ada alat canggih. Sebagai penjaga palang, Indra cuma mengandalkan penglihatannya untuk mendeteksi kedatangan kereta. “Iya, kelihatan. Harus mata tajam. Kalau enggak tajam, repot,” katanya mantap.
Bahaya selalu mengintai. Cuma butuh satu kelengahan. “Waduh, bahaya kalau lagi meleng, tau-tau (kereta) udah sampai situ,” ucap Indra sambil menunjuk ke arah rel sekitar 100 meter darinya.
Namun begitu, ancaman tak cuma dari kereta. Sering ia berhadapan dengan pengendara nekat yang mau menerobos. Indra tak segan memarahi mereka. “Wah, saya sering ngomelin orang. Udah tahu ditutup, masih mau dibuka aja,” ujarnya.
Bahkan, tantangan pun ia lontarkan. “‘Lo daripada mati sama kereta, mendingan sama gue.’ Saya gituin,” katanya. Biasanya, setelah itu, si pelanggar cuma bisa diam.
Semua ini dilakukannya tanpa perintah. Murni inisiatif. “Inisiatif,” tegasnya singkat.
Bersama 20 Rekan, Jaga 24 Jam
Perlintasan ini dijaga terus, siang dan malam. Menurut Indra, ada sekitar 20 orang warga sekitar yang terlibat, dengan sistem giliran. Hari itu, jagaannya dari pukul sembilan pagi sampai tengah hari.
“Saya dari jam 9 sampai jam 12. (Penjaga lainnya) dari jam 12 sampai jam 3. Jam 3 sampai jam 6, Maghrib,” jelasnya.
PT KAI sendiri, katanya, belum pernah menawarinya pekerjaan formal. Paling hanya sekali ia dapat pesan dari petugas yang sedang inspeksi rel. “Paling dia cuma komen, ‘Hati-hati ya, jaga keselamatan.’ Iya, gitu doang,” ucapnya menirukan.
Indra lalu bercerita tentang kecelakaan maut di titik lain, sekitar dua bulan lalu. Penyebabnya klasik: penerobosan. “Di ujung sana, itu pernah kejadian motor, abis pulang pacaran. Udah tau (palang) ditutup kan, dia main buka aja,” kisahnya. Tak ada yang selamat. Peristiwa itu akhirnya berujung pada penutupan perlintasan oleh pihak kereta api.
Uang Kas dan Gotong Royong
Untuk menunjang operasional, mereka mengumpulkan uang kas. Setiap penjaga menyetor Rp 7 ribu per hari Rp 5 ribu untuk operasional, Rp 2 ribu khusus untuk jaga malam. Uang itu dipakai untuk perbaikan jalan, palang yang patah, atau saung tempat mereka berteduh.
“Pokoknya setiap yang jaga harus ngasih, kecuali Idul Fitri. Lebaran sama kalau lagi libur enggak ngasih. Kalau ada lebihnya, sebelum Lebaran dibagi-bagi,” terang Indra.
Penghasilan yang Naik-Turun
Pendapatannya dari sini sangat tak menentu. Kadang, kalau berdua jaga, bisa dapat Rp 60 ribu. Di hari yang sepi, bisa serendah Rp 25 ribu per orang. Sesekali, meski jarang, bisa mencapai Rp 100 ribu.
Saat Lebaran, biasanya lebih baik. “Bukan mewah lagi. Orang lewat ada yang ngasih duit (dengan nominal) lebih besar,” ujarnya dengan semangat.
Tapi situasi berubah total saat hujan. “Kalau lagi hujan, sepi. Boro-boro buat ngerogoh kantong, susah. Yang lewat sih banyak, yang ngasih kagak,” keluhnya.
Di luar menjaga palang, Indra juga mengemudi ojek online. Ia tinggal bersama anak bungsunya. Penghasilan hariannya, yang sekitar Rp 100 ribu, dipakai untuk kebutuhan mereka berdua, bahkan kadang untuk anak ketiganya. “Cukup buat makan sama rokok doang,” akunya.
Ada satu hal kecil yang masih ia lakukan di tengah kesibukannya. Kadang, uang itu ia pakai untuk membeli makanan kucing liar di sekitar perlintasan. “Kadang ngumpanin kucing. Kan enggak tega,” katanya, suaranya lirih.
Artikel Terkait
Pakar APINDO Ingatkan KUHP Baru Bisa Tak Efektif Jika Penegak Hukum Bermasalah
IKA Unhas Salurkan 22 Ton Beras untuk Program Ramadhan
Kemlu: 4.725 WNI Korban Penipuan Online di Kamboja Minta Dipulangkan dalam 5 Pekan
KPAI Desak Proses Hukum Cepat untuk Kasus Penganiayaan Anak Tiri di Sukabumi