Indra, Penjaga Palang Swadaya di Tebet: Kalau Lengah, Bahaya Mengintai

- Minggu, 04 Januari 2026 | 13:54 WIB
Indra, Penjaga Palang Swadaya di Tebet: Kalau Lengah, Bahaya Mengintai

PT KAI sendiri, katanya, belum pernah menawarinya pekerjaan formal. Paling hanya sekali ia dapat pesan dari petugas yang sedang inspeksi rel. “Paling dia cuma komen, ‘Hati-hati ya, jaga keselamatan.’ Iya, gitu doang,” ucapnya menirukan.

Indra lalu bercerita tentang kecelakaan maut di titik lain, sekitar dua bulan lalu. Penyebabnya klasik: penerobosan. “Di ujung sana, itu pernah kejadian motor, abis pulang pacaran. Udah tau (palang) ditutup kan, dia main buka aja,” kisahnya. Tak ada yang selamat. Peristiwa itu akhirnya berujung pada penutupan perlintasan oleh pihak kereta api.

Uang Kas dan Gotong Royong

Untuk menunjang operasional, mereka mengumpulkan uang kas. Setiap penjaga menyetor Rp 7 ribu per hari Rp 5 ribu untuk operasional, Rp 2 ribu khusus untuk jaga malam. Uang itu dipakai untuk perbaikan jalan, palang yang patah, atau saung tempat mereka berteduh.

“Pokoknya setiap yang jaga harus ngasih, kecuali Idul Fitri. Lebaran sama kalau lagi libur enggak ngasih. Kalau ada lebihnya, sebelum Lebaran dibagi-bagi,” terang Indra.

Penghasilan yang Naik-Turun

Pendapatannya dari sini sangat tak menentu. Kadang, kalau berdua jaga, bisa dapat Rp 60 ribu. Di hari yang sepi, bisa serendah Rp 25 ribu per orang. Sesekali, meski jarang, bisa mencapai Rp 100 ribu.

Saat Lebaran, biasanya lebih baik. “Bukan mewah lagi. Orang lewat ada yang ngasih duit (dengan nominal) lebih besar,” ujarnya dengan semangat.

Tapi situasi berubah total saat hujan. “Kalau lagi hujan, sepi. Boro-boro buat ngerogoh kantong, susah. Yang lewat sih banyak, yang ngasih kagak,” keluhnya.

Di luar menjaga palang, Indra juga mengemudi ojek online. Ia tinggal bersama anak bungsunya. Penghasilan hariannya, yang sekitar Rp 100 ribu, dipakai untuk kebutuhan mereka berdua, bahkan kadang untuk anak ketiganya. “Cukup buat makan sama rokok doang,” akunya.

Ada satu hal kecil yang masih ia lakukan di tengah kesibukannya. Kadang, uang itu ia pakai untuk membeli makanan kucing liar di sekitar perlintasan. “Kadang ngumpanin kucing. Kan enggak tega,” katanya, suaranya lirih.


Halaman:

Komentar