Dalam sebuah konferensi pers yang digelar Minggu lalu, Presiden Donald Trump membuat klaim mencolok tentang operasi militer AS di Venezuela. Menurutnya, tidak ada korban jiwa dari pihak militer Amerika. Tidak satu pun.
"Tidak satu pun anggota militer Amerika yang tewas dan tidak satu pun peralatan militer Amerika yang hilang," tegas Trump dengan nada percaya diri.
Ia lalu merinci, "Kami memiliki banyak helikopter, banyak pesawat, dan sangat banyak personel yang terlibat dalam pertempuran tersebut."
Klaim itu diulanginya, seolah untuk menekankan poin utamanya. "Tetapi pikirkan hal ini. Tidak satu pun peralatan militer yang hilang. Dan yang lebih penting, tidak satu pun anggota militer yang tewas."
Bagi Trump, pernyataan ini sekaligus menjadi bukti keperkasaan militer negaranya. Kekuatannya, katanya, jauh melampaui negara mana pun di dunia. Bukan cuma soal jumlah personel, tapi juga teknologi persenjataan yang dimiliki.
"Militer Amerika Serikat adalah militer terkuat dan paling ditakuti di planet ini," ujarnya. "Jauh melampaui yang lain. Kami memiliki peralatan terbaik di mana pun di dunia. Tidak ada peralatan yang sebanding dengan apa yang kami miliki."
Pembahasan kemudian bergeser. Selain soal kekuatan militer, Trump juga menyoroti pencapaian lain yang ia anggap sukses besar: pemberantasan narkoba.
Ia mengeklaim operasi pengawasan laut berhasil memotong hampir seluruh jalur penyelundupan. Angkanya cukup fantastis, mencapai 97 persen.
"Dan Anda bisa melihatnya bahkan jika hanya melihat kapal-kapal," kata Trump mencoba menggambarkan. "Setiap kapal, rata-rata, membunuh 25 ribu orang. Kami melumpuhkan 97 persen. Dan narkoba itu sebagian besar berasal dari sebuah tempat bernama Venezuela."
Mengenai langkah ke depan, Trump bersikukuh Amerika Serikat akan tetap bertahan di Venezuela. Ini berlaku setidaknya sampai transisi kekuasaan pasca-penangkapan Nicolas Maduro berjalan dengan mulus.
"Kami akan menjalankan negara itu sampai pada saat kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana," jelasnya.
Ia tampaknya tak ingin mengulang kesalahan masa lalu. "Jadi kami tidak ingin terlibat dengan membiarkan orang lain masuk dan kami mengalami situasi yang sama seperti yang terjadi selama bertahun-tahun sebelumnya."
Di akhir pernyataannya, Trump menyebut tujuan mulia di balik semua ini. Katanya, AS ingin membawa perdamaian dan keadilan kembali untuk rakyat Venezuela. Termasuk bagi para diaspora di Amerika yang rindu pulang.
"Kami menginginkan perdamaian, kebebasan, dan keadilan bagi rakyat besar Venezuela, termasuk banyak warga Venezuela yang sekarang tinggal di Amerika Serikat dan ingin kembali ke negara mereka. Itu adalah tanah air mereka," ucap Trump.
Nada suaranya berubah lebih tegas. "Kami tidak bisa mengambil risiko bahwa pihak lain mengambil alih Venezuela tanpa memikirkan kebaikan rakyat Venezuela. Kami telah mengalami itu selama beberapa dekade. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Kami ada di sana sekarang," pungkasnya, menutup pernyataan dengan kalimat pendek yang penuh keyakinan.
Artikel Terkait
Pakar APINDO Ingatkan KUHP Baru Bisa Tak Efektif Jika Penegak Hukum Bermasalah
IKA Unhas Salurkan 22 Ton Beras untuk Program Ramadhan
Kemlu: 4.725 WNI Korban Penipuan Online di Kamboja Minta Dipulangkan dalam 5 Pekan
KPAI Desak Proses Hukum Cepat untuk Kasus Penganiayaan Anak Tiri di Sukabumi