Di akun Facebook pribadinya, Abdul Gaffar Karim dosen Fisipol UGM itu baru saja membagikan sebuah refleksi yang cukup menusuk. Ia bicara soal demokrasi, tapi dengan cara yang berbeda dari buku-buku tebal.
Sudah lama para ilmuwan politik menulis ratusan halaman. Mereka berusaha menjelaskan bahwa kondisi demokrasi di banyak tempat sedang tidak baik-baik saja. Istilah-istilah akademik pun bertebaran: democratic erosion, backsliding of democracy, atau the shrinking democratic space. Ada juga yang lebih dramatis, menulis buku berjudul How Democracies Die.
Tapi menurut Gaffar, semua uraian panjang lebar itu tiba-tiba terangkum utuh hanya dengan empat kata. Baginya, keempat kata ini ibarat muara dari puluhan sungai analisis yang berliku-liku. Ringkas, kongkret, dan langsung nyangkut di kepala.
Lalu, apa empat kata itu?
Ini adalah punchline dari seorang Panji, yang diunggah oleh akun Twitter @salam4jari. Kalimatnya sederhana sekali, tapi konteksnya yang bikin merenung.
"Wakil presiden kita Gibran."
Tanpa perlu penjelasan berlebihan, kalimat pendek itu seolah menyimpulkan segala kekhawatiran tentang ruang demokrasi yang menyempit, tentang bagaimana sistem bisa bergeser. Cuma empat kata. Namun begitu, dampaknya terasa jauh lebih dalam daripada sekadar candaan di media sosial.
Unggahan itu sendiri berupa cuplikan video pendek yang menunjukkan seorang pria mungkin Panji mengucapkan kalimat tersebut dengan ekspresi datar. Tanggal postingannya tertulis 1 Januari 2026, meski kontennya jelas bernada satir untuk kondisi kekinian.
Artikel Terkait
Pakar APINDO Ingatkan KUHP Baru Bisa Tak Efektif Jika Penegak Hukum Bermasalah
IKA Unhas Salurkan 22 Ton Beras untuk Program Ramadhan
Kemlu: 4.725 WNI Korban Penipuan Online di Kamboja Minta Dipulangkan dalam 5 Pekan
KPAI Desak Proses Hukum Cepat untuk Kasus Penganiayaan Anak Tiri di Sukabumi