Di Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat (2/1) lalu, suasana tampak sibuk. Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) terlihat sibuk memuat barang bantuan ke atas kapal. Bantuan kemanusiaan yang jumlahnya tak main-main sekitar 2.500 ton ini bersiap untuk berlayar menuju wilayah yang porak-poranda akibat bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Fokusnya kini bergeser: dari tanggap darurat ke tahap pemulihan dan rehabilitasi.
Seluruh logistik itu rencananya berangkat Sabtu (3/1) lewat jalur laut. Kapal milik Kalla Lines yang akan mengangkutnya.
Ketua Umum PMI, Jusuf Kalla, yang hadir di lokasi, menekankan bahwa prioritas saat ini adalah pembersihan lingkungan. Tujuannya sederhana: agar warga bisa secepatnya pulang ke rumah mereka.
“Ya, ini kapal yang kedua. Yang pertama berangkat dua minggu lalu. Ini kapal yang besar yang kita punya. Bisa muat 700 mobil,” ujar Kalla.
Menurutnya, pekerjaan ini harus cepat diselesaikan. Apalagi, bulan Ramadhan sudah di depan mata.
“Operasi pembersihan ini perlu segera dilakukan karena menjelang Bulan Ramadhan, seluruh masjid dan rumah masyarakat harus bersih. Dengan begitu, masyarakat dapat kembali ke rumah dan memulai kehidupan yang baru dengan lebih layak dan bermartabat,” tegasnya.
Nah, untuk mendukung target itu, PMI mengerahkan berbagai peralatan berat. Ada 41 unit mini ekskavator, 200 unit jet cleaner atau alat semprot tekanan tinggi, belum lagi puluhan ribu pacul dan sekop. Intinya, semua alat itu untuk membereskan lumpur dan puing-puing yang masih berserakan.
Di sisi lain, PMI juga tak melupakan nasib anak-anak korban bencana. Banyak buku pelajaran mereka hanyut atau rusak tak terbaca.
“Saat banjir bandang terjadi, banyak buku sekolah anak-anak yang hanyut dan rusak. Oleh karena itu, PMI fokus membantu anak-anak sekolah dengan menyediakan buku dan paket sekolah agar mereka bisa kembali belajar dan bersekolah seperti biasa,” kata Jusuf Kalla.
Maka, ikut serta dalam pengiriman kali ini adalah bantuan pendidikan. Jumlahnya cukup besar: 1,5 juta buku tulis, 20 ribu paket sekolah, dan 5 ribu tas sekolah.
Tak cuma itu. Ada juga 20 ribu paket bantuan bermartabat berisi pakaian, sarung, dan perlengkapan ibadah. Ini untuk menjaga harga diri dan kenyamanan warga di tengah proses pemulihan yang tak mudah.
Seiring peralihan fase dari darurat ke pemulihan awal, kiriman logistik pun disesuaikan. PMI menambahkan 2 ribu paket sembako, lebih dari seratus dus mi instan, serta ratusan kompor dan peralatan dapur. Barang-barang ini diharapkan bisa menopang kehidupan sehari-hari sementara.
Operasi kemanusiaan besar-besaran ini rencananya berjalan selama setahun penuh. Cakupannya luas, mulai dari pemulihan awal hingga rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah-daerah yang terdampak. Perjalanan masih panjang, tapi setidaknya kapal kedua ini sudah berlabuh untuk membawa harapan.
Artikel Terkait
Rooney Ingatkan Risiko Euforia United Strands, Cunha Tegaskan Fokus Hanya pada Poin
Tyler Morton Ungkap Kurangnya Kepercayaan dari Arne Slot Sebabkan Hengkang ke Lyon
Persib Dikabarkan Intip Kiper Belanda Ronald Koeman Jr.
Gempa Magnitudo 3,1 Guncang Sukabumi, Dirasakan di Piru