Catatan Redaksi: Bunuh diri bukanlah jalan keluar. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan, segeralah mencari pertolongan.
Suasana sunyi di sebuah garasi rumah di Jalan Muding Indah, Kerobokan Kaja, Badung, pecah Kamis pagi lalu. Sekitar pukul 10.00 WITA, seorang perempuan warga negara Rusia berinisial VG (50) ditemukan tak bernyawa. Ia menggantung diri.
Dari penyelidikan polisi, VG diduga kuat mengakhiri hidupnya karena depresi. Akar masalahnya? Perang yang berkecamuk antara Rusia dan Ukraina. Dugaan ini bukan tanpa alasan. Polisi menemukan sejumlah bukti di tempat kejadian yang mengarah ke sana.
Menurut sejumlah saksi, VG memang jarang terlihat keluar rumah. Kehidupannya terasa tertutup. Pemilik rumah bahkan pernah menemani wanita itu ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Masalahnya berkaitan dengan depresi pasca perang.
Bukti paling menyentuh adalah sebuah surat wasiat yang ditinggalkannya di ruang tamu. Surat itu mengungkapkan beban yang dipikulnya.
“Berdasarkan itu semua, plus keterangan saksi dan isi surat wasiatnya, kami pastikan korban meninggal karena bunuh diri. Didorong oleh depresi yang dideritanya,” jelas Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, Pejabat Sementara Kasubsipenmas Sihumas Polres Badung, Jumat (2/1).
Yang pertama menemukan keadaan tragis itu adalah asisten rumah tangga berinisial NWL. Perempuan 50 tahun itu langsung melaporkannya pada pemilik rumah, yang kemudian menghubungi polisi.
Selain surat wasiat yang menyayat hati, petugas juga menemukan sejumlah barang berharga di tempat kejadian. Ada uang tunai Rp 60 juta, sejumlah mata uang asing, serta identitas diri milik VG. Jenazahnya sendiri sudah dievakuasi ke RSUP Prof. IGNG Ngoerah Denpasar. Sementara itu, polisi masih berusaha menghubungi keluarga VG lewat Kedutaan Besar Rusia.
Isi Hati yang Terluka
Surat wasiat VG, yang sudah diterjemahkan, menyimpan kisah pilu. Isinya begini:
Saya tidak punya uang lagi untuk bertahan hidup. Dulu saya berhenti bekerja karena hati nurani saya tidak mengizinkan saya membayar pajak kepada Rusia fasis untuk perang ini. Putin telah mengambil segalanya dari saya. Tidak ada hal baik di depan, jadi tidak ada alasan dan kekuatan untuk melanjutkan.
Saya secara resmi memberikan izin untuk mendonorkan organ saya jika hal tersebut legal di Indonesia.
Ada beberapa pakaian yang masih layak di dalam koper untuk disumbangkan kepada orang yang membutuhkan, mungkin ke panti asuhan.
Tolong kremasi tubuh saya atau apa pun yang tersisa setelah kemungkinan donor organ di sini, di Bali. Saya ingin abu jenazah saya ditebarkan di laut. Saya telah meninggalkan Rp 60 juta untuk kremasi. Saya yakin jumlah itu cukup. Tidak perlu upacara. Pakaian untuk prosedur jika diperlukan ada di atas tempat tidur.
Tolong beri tahu saudara saya. Terima kasih. Saya minta maaf atas semua kesulitan yang telah saya timbulkan.
Surat itu berakhir dengan permintaan maaf. Sebuah akhir yang menyisakan kesedihan mendalam, jauh dari rumahnya, di sebuah pulau yang mungkin ia harapkan bisa menjadi pelarian.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah