Dua Al-Quran dan Sebuah Sumpah: Kisah di Balik Pelantikan Bersejarah Wali Kota New York

- Jumat, 02 Januari 2026 | 05:40 WIB
Dua Al-Quran dan Sebuah Sumpah: Kisah di Balik Pelantikan Bersejarah Wali Kota New York

Dia keturunan Asia Selatan. Lahir di Uganda. Istrinya warga Amerika keturunan Suriah. Hidupnya adalah cerminan dari sifat global New York. Dan menariknya, Al-Quran Schomburg yang dia pakai itu diduga berasal dari wilayah yang kini mencakup Suriah, Lebanon, Palestina, dan Yordania.

Ini bukan cuma soal peta. Ini pengingat bahwa New York selalu dibangun oleh orang-orang yang membawa seluruh dunianya dalam genggaman.

Sebenarnya, secara hukum, sumpah jabatan tidak mewajibkan teks agama apapun. Mayoritas walikota memang pakai Alkitab, tapi Konstitusi tidak mensyaratkannya. Artinya, pilihan Zohran ini bukan kewajiban. Ini identitas. Ini soal keberanian untuk terlihat. Seperti dia bilang, "Saya tidak akan menyembunyikan iman saya hanya agar orang lain nyaman."

Hal ini jadi penting karena, seperti dilaporkan AP, reaksi negatif sudah mulai berdatangan.

Senator Tommy Tuberville menulis, "Musuh sudah ada di dalam pagar," sebagai respons terhadap pelantikan Zohran. Dengarkan baik-baik: itu bukan politik. Itu dehumanisasi. Itu pandangan kolot berabad-abad yang dibungkus bahasa modern gagasan bahwa Muslim tidak pantas berada di sini, bahwa Muslim adalah ancaman, bahwa pemimpin Muslim adalah bentuk invasi.

Tapi yang dilakukan Zohran dengan dua Al-Quran itu adalah jawaban atas kebencian, tanpa perlu memohon-mohon.

Dia menjawabnya dengan keteguhan. Dengan menyelami sejarah. Dengan martabat.

Ada satu lagi yang dilaporkan AP dan mungkin terlewat. Mereka menyebut momen tahun 2006, ketika Kongres Keith Ellison dicaci maki karena menggunakan Al-Quran untuk sumpah seremonialnya. Kemarahan waktu itu bukan soal prosedur. Tapi soal kehadiran. Soal kekuasaan. Soal apakah Muslim Amerika diizinkan terjun ke kehidupan publik tanpa minta maaf atas keyakinannya.

Jadi, ketika Zohran bersumpah dengan Al-Quran warisan keluarga dan dari Schomburg, ini bukan cuma sekadar catatan sejarah. Ini adalah jawaban untuk Islamofobia selama puluhan tahun: kami tidak lagi berada di bayang-bayang. Kami berada dalam terang.

Sekarang, izinkan saya bicara khusus kepada keluarga Kristen saya. Banyak yang menyaksikan momen ini dengan lensa yang sudah terdistorsi.

Sebagian orang Kristen diajari untuk takut pada Islam, seolah-olah ia asing dan berbahaya secara inherent. Padahal, yang Zohran lakukan tadi malam adalah salah satu hal yang paling Amerika adanya: dia bersumpah untuk menjunjung Konstitusi, dengan kitab yang membentuk hati nuraninya. Itulah wujud kebebasan beragama yang sesungguhnya. Kebebasan yang melindungi Zohran, juga melindungi Anda.

Dan untuk Anda yang Muslim membaca ini rasakanlah kebanggaan, tanpa kesombongan. Karena ini bukan cuma tentang Zohran. Ini tentang setiap anak di Queens, Brooklyn, Bronx yang bertanya, apakah jadi Muslim secara terbuka berarti harus terus mengecilkan diri? Ini tentang setiap bibi dan paman yang merasa tak dihargai, setiap keluarga imigran yang disuruh "bersyukur dan diam". Ini bukti bahwa narasi bisa berubah cepat.

Saya tersenyum ingat acara di Long Island dulu, dimana orang-orang hampir tak menghiraukan Zohran. Tapi saya juga mengambil pelajaran serius: sejarah bergerak cepat ketika Allah membuka pintu, dan ketika orang-orang biasa sudah lelah terus dipinggirkan dan dihina.


Halaman:

Komentar