Belatung di Piring Sekolah: Saat Negara Alergi Kritik, Rakyat Hanya Bisa Bersyukur

- Kamis, 01 Januari 2026 | 17:50 WIB
Belatung di Piring Sekolah: Saat Negara Alergi Kritik, Rakyat Hanya Bisa Bersyukur

Berbeda dengan Raskin atau BLT, MBG bekerja langsung pada tubuh anak. Negara tak cuma memberi bantuan, tapi juga mengatur apa yang harus dimakan, kapan waktunya, dan standar gizinya. Dalam kerangka biopolitik, siswa direduksi menjadi sekadar objek pengelolaan negara, bukan subjek yang punya suara.

Masalahnya muncul ketika siswa cuma dilihat sebagai angka statistik. Saat mereka mengungkap makanan berbelatung, yang dianggap salah bukan kegagalan kontrol mutu, tapi keberanian mereka mendokumentasikannya. Respon disipliner lewat pemanggilan ke BK membuktikan satu hal: kritik dipandang sebagai gangguan yang harus ditertibkan. Ini eskalasi yang berbahaya. Sekolah yang seharusnya jadi ruang pendidikan berubah jadi perpanjangan tangan kontrol kebijakan.

Paternalistik dan Populisme Kebijakan

Respons seperti "tidak tahu bersyukur" itu mencerminkan wajah paternalistik negara. Posisinya seperti orang tua, sementara warga terutama anak-anak dianggap belum dewasa secara politik. Dalam relasi semacam ini, kritik dianggap durhaka. Bukan partisipasi.

Lebih jauh, MBG juga beroperasi sebagai kebijakan populis. Program ini dijual sebagai simbol kepedulian yang mudah dicerna publik. Sementara itu, kompleksitas teknis seperti rantai pasok, masalah higienitas, audit vendor sengaja ditenggelamkan. Akibatnya bisa ditebak. Setiap kritik langsung dianggap mengancam citra kebaikan yang sudah dibangun dengan susah payah. Belatung, dalam logika ini, bukan kegagalan sistem. Ia cuma gangguan terhadap narasi indah yang sudah dipoles.

Menurut sejumlah saksi, pola ini sudah terlalu sering terulang.

Masalah yang Lebih Dalam

Dari Raskin, BLT, hingga MBG, benang merahnya sebenarnya jelas. Kebijakan sosial kita masih dipraktikkan sebagai bentuk karitas negara, bukan sebagai pemenuhan hak warga negara. Selama logika ini bertahan, kualitas rendah akan terus dinormalisasi. Kritik pun akan selalu dipandang sebagai ancaman.

Yang paling mengkhawatirkan dari kasus MBG adalah pelajaran berbahaya yang diajarkan pada anak-anak sejak dini: bahwa bersuara itu berisiko tinggi, dan diam adalah bentuk kepatuhan yang paling aman.

Pada akhirnya, kasus belatung di makanan MBG ini seharusnya jadi momentum koreksi. Bukan cuma untuk memperbaiki dapur atau memilih vendor baru. Tapi yang lebih penting, untuk memperbaiki cara negara memandang kritik. Kritik bukan musuh kebijakan. Justru sebaliknya, ia adalah prasyarat mutlak untuk perbaikan.

Selama negara lebih sibuk menjaga citra ketimbang meningkatkan mutu, dan lebih cepat mendisiplinkan warga daripada membenahi sistem, maka belatung entah itu di beras, dalam mekanisme bantuan, atau di piring makan siswa akan terus muncul berulang. Yang berubah mungkin hanya kemasannya. Struktur arogansinya? Itu tetap sama.


Halaman:

Komentar