Perburuan gelar BRI Super League 2025/2026 makin seru. Persija Jakarta masih terus memburu Persib Bandung di puncak, sementara Persebaya Surabaya, meski sempat terpeleset, belum bisa dianggap keluar dari perlombaan.
Mental juara Persija benar-benar diuji Minggu malam (15/2/2026) lalu. Mereka datang ke markas Bali United FC yang sedang merayakan ulang tahun ke-11. Alih-alih sekadar memberi kado, Macan Kemayoran malah pulang membawa tiga poin penuh. Sebuah pernyataan.
Golnya datang cepat. Baru delapan menit laga berjalan, Gustavo Almeida sudah merobek jala gawang tuan rumah. Serangan balik cepat dari sisi kanan, umpan matang, dan disambut tandukan terarah sang striker. Kiper Bali United cuma bisa menonton. Gol itu langsung mengubah dinamika pertandingan.
Bali United tentu tak tinggal diam. Mereka menekan, terutama lewat sayap. Tapi lini belakang Persija terlihat rapat dan sulit ditembus. Peluang-peluang yang tercipta mentah sebelum jadi ancaman serius. Unggul satu gol, Persija bermain lebih cerdas. Mereka mengatur tempo, bertahan solid, dan siap menyerang balik kapan saja.
Babak kedua lebih sengit. Tekanan Bali United meningkat, bahkan sempat dapat peluang bagus dari situasi bola mati. Sayang, penyelesaian akhir mereka kurang tajam. Sementara itu, Persija bertahan dengan disiplin baja. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 0-1 tak tergoyahkan.
Ini kemenangan tandang yang berharga. Bukan cuma tiga angka, tapi juga pesan buat sang pemuncak: kami masih di sini.
Jarak dengan Persib tetap terjangkau. Dan dalam maraton panjang seperti ini, kemampuan meraih poin di kandang lawan sering jadi penentu. Persija menunjukkan mereka punya modal itu.
Nasib lain dialami Persebaya. Di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (14/2/2026) mereka takluk 1-2 dari Bhayangkara FC. Kekalahan ini memutus rekor gemilang 13 laga tak terkalahkan Bajul Ijo.
Mereka tertinggal dua gol dulu. Mihailo Perovic baru bisa mengurangi ketertinggalan lewat sepakannya di menit ke-64. Sorak penonton membahana, berharap ada gol penyelamat. Tapi harapan itu tak kunjung jadi kenyataan.
Secara statistik, Persebaya mendominasi. Penguasaan bola lebih besar, tekanan lebih intens. Tapi semua itu percuma. Dominasi tak diimbangi efektivitas di depan gawang lawan.
Pengamat sepak bola nasional, Binder Singh, melihat ada pola yang berulang.
"Ketika berhadapan dengan tim yang bertahan rapat dan disiplin, Persebaya kerap kehabisan akal," ujarnya.
Dia memuji Bhayangkara yang bermain compact dan efisien. Sedangkan Persebaya, meski menguasai permainan, terlihat kesulitan menciptakan peluang yang benar-benar berbahaya.
Kekalahan ini membuat mereka mentok di posisi lima klasemen dengan 35 poin. Tapi jalur ke puncak belum tertutup sama sekali. Masih banyak pekan tersisa. Satu momentum kemenangan beruntun bisa mengubah segalanya.
Namun, pelatih Bernardo Tavares punya pekerjaan rumah besar: mengembalikan konsistensi tim. Terutama mencari cara jitu menghadapi tim yang memilih bertahan rendah. Itu PR yang harus segera dipecahkan.
Kalau dilihat dari papan klasemen, persaingan sekarang seperti punya dua lapisan. Di lapisan pertama, Persib merasakan desakan panas dari Persija yang tak mau lepas. Satu lapis di bawahnya, Persebaya berjuang agar tak tertinggal terlalu jauh.
Karakter ketiga tim ini pun unik. Persib itu stabil, jarang berbuat kesalahan fatal. Persija punya mental baja di momen-momen penting. Sementara Persebaya punya energi dan serangan yang meledak-ledak, meski kadang naik turun.
Musim ini benar-benar seperti maraton. Ada yang memimpin dari start, ada yang menyimpan tenaga untuk finish. Pekan ke-21 mengingatkan satu hal: belum ada yang benar-benar aman.
Persija membuktikan bahwa kemenangan tipis 1-0 pun punya makna besar. Persebaya diingatkan lagi bahwa main cantik saja tak cukup, harus efektif. Dan Persib, meski tak bermain pekan ini, pasti merasakan kehadiran sang pengejar di belakang punggung mereka.
Semua masih terbuka. Fase paling menentukan justru baru akan dimulai.
Karena di liga yang panjang dan melelahkan, juara sejati bukan cuma tim paling berbakat. Tapi tim yang mampu bertahan, tetap fokus, dan punya nyali sampai detik terakhir.
Artikel Terkait
Persebaya Krisis Performa di Kandang, Catatan Tandang Justru Lebih Baik
Media Malaysia Tuding Erick Thohir Dalangi Laporan FAM ke FIFA
Napoli vs AS Roma Imbang 2-2, Roma Geser Juventus ke Posisi Empat
Atletico Madrid Tersungkur 0-3 di Rayo, Posisi Papan Atas Terancam