Di sisi lain, usulan awal ini rupanya datang dari Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin. Menurutnya, banyak kuala di wilayah bencana yang bermuara ke laut. Jika sungai bisa dilayari kapal-kapal TNI, maka pergerakan logistik dan alat berat akan jauh lebih efisien.
Konsepnya, sungai akan dibersihkan dari kayu-kayu yang menumpuk. Lalu, lumpurnya disedot agar kedalaman alur air kembali normal. "Jadi, dari laut kita sudah lakukan pendalaman sampai ke sungai. Sehingga kapal tidak perlu lagi taruh itu alat berat, digendong pakai jalur darat, tapi dia langsung ke titik terdekat. Ini usul kami, Bapak Presiden," tambahnya.
Tak main-main, Sjafrie mengungkapkan bahwa Satuan Tugas (Satgas) Kuala sudah dibentuk. Satgas ini punya dua tugas utama: pendalaman sungai dan pemanfaatan air. Bahkan, akan dilengkapi dengan sistem pengolahan air untuk menghasilkan air bersih.
Respons positif juga datang dari Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian. Dia punya masukan teknis agar pekerjaan bisa lebih cepat. Menurutnya, menggunakan ekskavator biasa akan terlalu lambat untuk menangani sedimen yang masif di kuala.
Dia mengaku telah berkomunikasi dengan pelaku di bidang pertambangan yang memiliki alat penyedot lumpur berkapasitas besar. Jika terealisasi, metode ini diharapkan bisa mempercepat pemulihan sungai-sungai yang terdampak bencana.
Artikel Terkait
Overdo: Drama Tiongkok 2026 yang Siap Hancurkan Hati Penonton dengan Romansa Tragis di Era Shanghai
Bayi 6 Bulan Tewas Dihajar Ayah Kandung di Warung Sembako
Prabowo Tinjau Huntara Aceh Tamiang, dari Jabat Tangan hingga Cek Kualitas Rumah
Pencarian Tiga Warga Spanyol di Labuan Bajo Diperpanjang Hingga 4 Januari