Washington DC baru saja menyaksikan sebuah ironi yang cukup menggelitik. Di tengah bulan Desember yang dingin, tepatnya tanggal 18, nama "Trump" tiba-tiba bersinar di depan Gedung Kennedy Center for the Performing Arts. Plakat baru itu terpasang dengan cepat, hanya sehari setelah dewan direksi yang notabene ditunjuk oleh Trump sendiri menyetujui penggantian nama. Cepat sekali, bukan? Bayangkan jika efisiensi administratif semacam ini dipakai untuk urusan yang lebih mendesak, misalnya menangani krisis atau membenahi infrastruktur. Tapi rupanya, "kehebatan eksekusi" itu justru diarahkan untuk mengecat ulang identitas sebuah landmark budaya dengan warna politik.
Reaksi dari dunia seni pun tak lama datang. Dan ini bukan protes biasa.
The Cookers, sebuah band jazz ternama, secara elegan membatalkan pertunjukan mereka. Dalam pernyataannya, mereka mengingatkan kita semua bahwa jazz pada dasarnya adalah musik perlawanan. Lalu ada penyanyi folk Kristy Lee, yang dengan nada tenang menyatakan bahwa kehilangan integritas itu harganya jauh lebih mahal daripada segalanya.
Tapi mungkin yang paling menyentak adalah keputusan Chuck Redd.
Pemusik yang sudah memimpin konser Malam Natal di sana hampir dua dekade itu memilih mundur. Diam-diam, tanpa keributan. Tapi dalam dunia seni yang ia tinggalkan, keputusannya bergema bagai guntur.
Namun begitu, pihak pengelola tak tinggal diam. Grenell, sang ketua Kennedy Center, melayangkan kritik pedas. Dalam surat resmi untuk Chuck Redd tertanggal 27 Desember, ia menuding keputusan para seniman sebagai bentuk intoleransi yang menyebabkan kerugian finansial besar bagi institusi. Grenell bahkan mengancam akan menuntut ganti rugi hingga satu juta dolar atas "pertunjukan politik" ini. Sungguh sebuah tuntutan yang terdengar absurd seolah-olah prinsip dan hati nurani seorang artis bisa dinilai dengan angka sewa gedung. Di sisi lain, seorang juru bicara lain, Darawati, mencap para seniman itu "egois". Ini membuat kita bertanya-tanya, sebenarnya siapa sih yang tidak toleran dalam kasus ini?
Artikel Terkait
Malioboro Tetap Ramai di Siang Hari Pertama 2026, Wali Kota Pantau dengan Boncengan Motor
Mulai 2026, Pelaku Kejahatan Bisa Dihukum Kerja Sosial, Bukan Penjara
Kembang Api di Vila Bali Picu Kebakaran, Kerugian Capai Rp 3 Miliar
Bisik-Bisik 10.000 Bitcoin dan Awan Kelabu The Fed di Ambang 2026