Di jagat kesehatan masyarakat Indonesia, nama dr. Tan Shot Yen sudah tak asing lagi. Seorang pakar gizi, penulis, dan intelektual publik yang vokal. Gaya komunikasinya blak-blakan, fokus pada edukasi gaya hidup sehat dengan pendekatan holistik. Intinya, dia selalu mendorong kita kembali ke real food, makanan alami yang jauh dari olahan pabrik.
Belakangan, perhatiannya tertuju pada program Makanan Bergizi (MBG). Pasalnya, Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini berpendapat bahwa layanan MBG harus tetap jalan saat libur sekolah. Alasannya? Risiko kekurangan gizi justru bisa naik ketika anak di rumah dan pola makan keluarga kurang terpantau.
Nah, pernyataan ini langsung disorot dr. Tan. Lewat akun Instagramnya, dia melontarkan sederet pertanyaan kritis yang membuat kita berpikir ulang.
Pertama-tama, dia mempertanyakan dasar ilmiahnya. "Pernyataan ini ada studi berbasis bukti?" tanyanya. Rasanya, sebuah program sebesar ini harus punya pijakan data yang kuat, bukan sekadar asumsi.
Lalu, poin kedua yang dia angkat cukup menusuk. Apakah dengan membagikan jajanan ultra-processed food (UPF) yang seringnya manis, asin, dan awet lalu risiko gizi buruk dianggap selesai? Maksudnya, roti berbuluk dan kue kering bergula tinggi itu dianggap solusi? Pertanyaan ini menyentuh esensi dari apa yang seharusnya disebut "makanan bergizi".
Di sisi lain, dr. Tan justru melihat libur sebagai momen ujian sebenarnya. "Bukannya justru libur di rumah, jika MBG berhasil, maka ibu-ibu lebih teredukasi memberi makan anaknya?" argumennya. Jadi, seharusnya program ini membuahkan kemandirian, bukan ketergantungan.
Pertanyaan keempatnya lebih keras lagi, bernada frustrasi. "Apakah sebegitu bodohnya para orang tua mengasuh anak, sehingga negara perlu ambil alih pangan keluarga?" tulisnya. Kalimat itu seperti tamparan, menggugat asumsi bahwa keluarga Indonesia tidak mampu mengatur nutrisi anaknya sendiri.
"
Tak cuma itu, dia juga menyoroti sisi pembiayaan. Program triliunan rupiah ini, menurutnya, tak hanya berpotensi menghamburkan uang negara. Lebih dari itu, MBG seolah membuat para pejabatnya memandang rendah rakyat. Seakan-akan kita semua dianggap tidak paham urusan dapur dan gizi.
Sentimen serupa ternyata bergema di media sosial. Seorang warganet dengan pedas menyindir, "MBG bukan ngasi makan anak sekolah. Ngasi makan yg punya dapur biar bisa jalan2."
Kritik juga datang dari mereka yang punya latar belakang ilmu gizi. Seorang netizen yang mengaku lulusan IPB angkat bicara.
"Bapak-Bapak yang terhormat. Saya pernah belajar ilmu pangan dan gizi di IPB sampai tamat strata 1, jadi saya berhak memberi pernyataan: ini bukanlah makanan bergizi."
Komentar-komentar itu seperti menggambarkan sebuah kekecewaan. Rakyat sebenarnya tak butuh charity yang merendahkan. Mereka butuh edukasi yang memberdayakan, sistem pangan yang adil, dan kepercayaan bahwa mereka bisa mengurus anak-anaknya dengan baik.
Pada akhirnya, perdebatan ini bukan cuma soal nasi bungkus atau roti. Ini soal filosofi: apakah kita melihat masyarakat sebagai subyek yang cerdas, atau hanya obyek program yang pasif? Pertanyaan itulah yang, lewat kritik pedasnya, coba diangkat oleh dr. Tan Shot Yen.
Artikel Terkait
Tiga Bocah Tewas Tenggelam di Waduk Lamongan Saat Coba Tolong Teman
Delapan Rumah Hangus Terbakar di Permukiman Padat Makassar, Diduga Dipicu Mainan Api Anak
Sidang Isbat Kemenag Tetapkan Awal Ramadhan 1447 H Malam Ini
Bupati Bone Turun ke Pasar Pantau Harga Pokok Jelang Ramadhan