Harapan besar yang diletakkan pada Presiden Prabowo Subianto pun mulai memudar.
“Setahun lebih berkuasa, yang terdengar hanya pidato-pidato kosong. Harapan itu lenyap,” katanya dengan nada kecewa.
“Konflik antara rakyat dan rezim kini mulai membentuk warna dan cirinya sendiri. Dasarnya sederhana: tidak ada lagi harapan untuk masa depan.”
Dalam pantauannya, gelombang kekecewaan ini sudah sampai pada titik yang mengkhawatirkan. Beberapa daerah bahkan disebutkan berada dalam siaga tinggi, dengan wacana memisahkan diri dari NKRI. Peringatan dini bahwa Indonesia bisa pecah, sayangnya, tidak digubris.
Indonesia, dalam gambaran Sutoyo, sedang sekarat. Rambu-rambu pengamanan konstitusional dilepas, bahkan dihancurkan, sejak pemberlakuan UUD 2002. Negara seperti kehilangan kemudi.
“Kita kehilangan figur yang bisa memulihkan keseimbangan, seperti nahkoda yang membawa kapal kembali stabil. Yang terjadi justru negara terus meluncur ke tepi jurang kehancuran,” jelasnya.
Kesimpulannya suram. Indonesia, tandas Sutoyo, dikendalikan oleh imperium uang. Para pejabat penyelenggara negara hanya berperan sebagai budaknya.
Artikel Terkait
Kejari Barru Resmikan Mess Pegawai 16 Kamar, Dukung Program Zero Indekos
Barcelona Tumbang 0-2 dari Atletico Madrid di Leg Pertama Perempat Final
Imigrasi Ngurah Rai Deportasi Pimpinan Sindikat Pencucian Uang yang Masuk Daftar Interpol
Polisi Ungkap Motif Judi Online di Balik Pembunuhan dan Mutilasi Ibu Kandung di Lahat