Nah, terhadap ribuan konten maut itu, langkah tegas sudah diambil. "Terhadap konten-konten tersebut, Satgas Kontra Radikalisasi telah melakukan upaya pemutusan akses, ya, kepada Komdigi," terang Eddy. Upaya taktis untuk memotong penyebaran di akarnya.
Namun begitu, ancamannya tak bisa dianggap remeh. Eddy menekankan bahwa fenomena ini menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Ancaman di ruang digital ternyata sangat lincah dan sulit diprediksi.
"Dari fenomena tadi ya, perkembangan terorisme tersebut, ya, bahwa tetap ancaman terorisme ini bersifat persisten dan adaptif gitu," tuturnya.
"Sama dengan kami gunakan juga istilahnya dari PBB ya, bahwa terorisme tetap menjadi ancaman ya, dan sifatnya adaptif ya, tergantung daripada situasi. Dan apalagi sekarang mereka sering menggunakan ruang digital untuk melakukan tadi tiga hal, propaganda, rekrutmen, dan pendanaan terorisme," pungkas Eddy.
Di sisi lain, BNPT tak hanya fokus pada tindakan reaktif. Sejumlah program pencegahan digulirkan untuk membangun ketahanan dari akar rumput. Beberapa yang disebutkan antara lain Sekolah Damai, Kampus Kebangsaan, hingga penguatan forum koordinasi di seluruh provinsi. Upaya ini seperti dua sisi mata uang: menangkis serangan digital sambil memperkuat benteng pertahanan masyarakat secara nyata.
Artikel Terkait
Pemprov Sulsel Tegaskan Anggaran Sewa Helikopter Rp 2 Miliar Belum Direalisasi
Arus Balik Lebaran 2026 Resmi Berakhir, 3,38 Juta Kendaraan Masuk Jabotabek
Kebocoran Diduga Picu Ledakan dan Kebakaran di SPBE Cimuning Bekasi
Aturan Larangan Ponsel di Sekolah Makassar Picu Pro-Kontra di Kalangan Siswa