Di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta, suasana paparan akhir tahun terasa cukup padat. Komjen Pol Fadil Imran, selaku Asisten Utama Operasi, berdiri untuk memaparkan capaian. Fokusnya kali ini adalah pada upaya Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Polri. Intinya sederhana tapi krusial: keamanan yang baik berawal dari pencegahan.
"Inti dari keamanan adalah pencegahan," tegas Fadil.
Nah, untuk mewujudkan itu, Baharkam tak main-main. Mereka sedang gencar mengoptimalkan segala alat utama sistem persenjataan atau Alutsista di bawah kendali Korps Samapta Bhayangkara. Tujuannya jelas, meningkatkan efektivitas. Baik untuk mencegah kejahatan sebelum terjadi, maupun untuk mengamankan berbagai objek vital nasional yang tersebar di penjuru tanah air.
Penguatan ini bentuknya nyata. Bukan sekadar wacana. Fadil membeberkan, upaya itu dilakukan lewat penyebaran perlengkapan taktis, ribuan unit kendaraan bermotor, sampai memanfaatkan Unit Satwa. Semua untuk mendukung tugas-tugas preventif tadi.
"Polri telah memodernisasi peralatan Dalmas, Rantis, dan memasang ribuan sensor canggih demi pengamanan Objek Vital," ujarnya menjelaskan.
Di sisi lain, kemampuan deteksi juga dikebut. Peran Unit K9 alias anjing pelacak dan kuda terus dioptimalkan. Mereka bukan sekadar pelengkap, tapi andalan dalam operasi pencarian narkotika hingga kegiatan search and rescue (SAR).
Dukungan mobilitas pun diperkuat. Dengan 59 armada udara dan 66 kapal patroli yang siaga, Polri berusaha menjamin respons yang cepat dan personel yang selalu siap diterjunkan ke mana pun dibutuhkan.
"Kami menjamin mobilitas tinggi serta kesiapsiagaan personel di seluruh wilayah Indonesia," kata Fadil menambahkan.
Namun begitu, ada pendekatan baru yang coba diterapkan. Fadil menyebutnya strategi "Hit and Fix Policing". Ini semacam perubahan pola pikir. Tidak hanya fokus pada "memukul" atau menindak kejahatan yang sudah terjadi, tapi juga "memperbaiki" kondisi agar kejahatan serupa tidak terulang di masa depan.
"Kami tidak hanya mengintervensi kejahatan saat terjadi, tapi juga melakukan tindakan jangka panjang untuk mencegah kejahatan tersebut terulang kembali," paparnya.
Lantas, bagaimana mengukur keberhasilan pendekatan ini di level paling bawah? Menurut Fadil, jawabannya ada pada sebuah indeks. Indeks keamanan desa dan kelurahan kini jadi alat ukur mereka. Dengan itu, Polri berharap bisa mendapat gambaran akurat tentang kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat langsung dari akar rumput.
"Melalui indeks keamanan desa atau kelurahan, kami kini memiliki alat ukur yang akurat," tutup Fadil, "untuk memastikan setiap desa dan kelurahan di Indonesia dalam keadaan aman dan tentram."
Artikel Terkait
Regulasi Baru 2026 dan Mobil Anyar Warnai Grid F1 Jelang Melbourne
Mantan Bawahan Kapolres Bima Kota Simpan Koper Berisi Narkoba Atas Permintaan Didik
Kapal Penumpang Terpaksa Putar Balik Diterjang Cuaca Ekstrem di Perairan Sulawesi
Sumur Laccokkong di Bone, Saksi Bisu Ritual Kerajaan Abad ke-15