Warna-warni terompet plastik memenuhi trotoar Jalan Pintu Besar Selatan, Jakarta, Senin lalu. Menjelang malam pergantian tahun, suasana di sana riuh dengan aktivitas para pedagang. Mereka sibuk merakit dan melipat dagangannya, memanfaatkan lahan di depan kios-kios yang tutup. Tinggal hitungan hari, persiapan pun kian digenjot.
Leson, salah satu pedagang, baru dua hari tiba di lokasi. Ia datang bersama istri dan anaknya. Bagi keluarganya, ritual tahunan berjualan terompet ini sudah seperti tradisi. Sambil tangannya lincah melipat terompet, ia bercerita tentang harapannya.
"Kalau sebelum Covid, sepuluh hari di sini omzet bisa sampai Rp 7–10 juta. Mudah-mudahan sekarang begitu juga," ujarnya.
Harapan itu ia gantungkan tinggi-tinggi, meski ia tahu persaingan dan situasi tak selalu mudah.
Artikel Terkait
Kisah Kelahiran Langka Rudini: Dari Anak Gajah Malang Menuju Puncak Karier Militer
Noussair Mazraoui Buka Suara: Pensiun dari Sepak Bola untuk Fokus Jadi Imam dan Hafiz Quran
Gattuso, Buffon, dan Gravina Mundur Usai Italia Gagal ke Piala Dunia 2026
BPPTKG: Aktivitas Vulkanik Merapi Masih Tinggi, Status Siaga Dipertahankan