Dan satu hal lagi. Politik MAFIA sudah menguasai enam struktur penentu kemenangan: KPU, Bawaslu, MK, lembaga survei, media mainstream, dan kepolisian. Mereka pegang kendali di sana.
Sepertinya, Si Om sendiri tak terlalu cemas dengan citranya yang anjlok. Dia masih punya senjata andalan: MBG dan dana APBN untuk honor pegawai. Dan tentu saja, kontrol atas enam struktur tadi.
Lalu, strategi apa yang bisa menyelamatkan rakyat dari penipuan kolosal lima tahunan ini? Secara teori, sulit. Bahkan dalam sejarah, belum pernah ada contohnya.
Mungkin harapan kita cuma satu: menunggu sebuah anomali. Sebuah momen "out of the matrix". Keadaan yang tak biasa, algoritma yang macet. Itu peluang langka yang tak terprediksi. Sebagai bangsa yang puluhan tahun ditipu kaum zholim, pasti ada celah perubahan yang Allah sisakan. Masak iya perjuangan orang-orang baik selama ini zonk semua? Tentu tidak.
Bentuk keadilan seperti apa nantinya? Biarlah Allah yang wujudkan sesuai hikmah-Nya. Yang penting kita sudah berusaha semampunya. Andaikan kami mati dalam keadaan negeri masih dikuasai mafia seperti sekarang semoga keadilan itu Allah anugerahkan untuk generasi setelah kami.
Teringat ucapan Pemimpin Taliban, Mullah Umar rahimahullah, saat memulai gerilya kembali.
Kalau dihitung-hitungan politik, memang hampir tak ada harapan. Tapi kalau ingat janji Allah… "Wal aqibatu lil muttaqiin". Akhir yang baik adalah untuk orang-orang yang bertakwa.
Demikian. Wallahu A'lam bis showaab.
Rajab 1447 H
(Sam Waskito)
Artikel Terkait
Timnas Iran Gelar Aksi Diam Bawa Tas Sekolah, Berduka untuk 165 Korban Anak di Minab
Antonelli Rebut Pole Position, Grid Suzuka 2026 Diwarnai Kejutan
Justin Hubner: Indonesia Terasa Seperti Rumah Setiap Kali Dipanggil Timnas
Hendropriyono Kenang Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan Sipil dengan Jiwa Militan