Bowo dan Politik Matrix: Ketika Harapan Rakyat Tertahan di Labirin Kekuasaan

- Minggu, 28 Desember 2025 | 07:00 WIB
Bowo dan Politik Matrix: Ketika Harapan Rakyat Tertahan di Labirin Kekuasaan

Arah Politik Bowo dan MATRIX

Oleh: Sam Waskito

Bismillah.

Semuanya berjalan mulus di awal. Tapi kemudian, keraguan mulai muncul. Kabinet GEMUK yang dia bentuk jadi bahan pembicaraan. Mungkin itu filosofinya, sesuai dengan keadaan fisiknya. Belum lagi sosok pendampingnya fufufafa yang bikin orang cuma bisa geleng-geleng. "Oh, sudahlah," begitu kira-kira.

Namun begitu, citranya sempat meroket lagi. Pemicunya? Munculnya sosok "kuda hitam" dari Menkeu Purbaya. Meski slenge'an, sang menteri ini dianggap banyak orang mewakili suara rakyat yang haus keadilan, yang selama ini merasa ditindas rezim MAFIA.

Sayangnya, rasa keadilan itu kembali terusik. Si Om Bowo, dengan terang-terangan, menutup kasus hukum dua proyek besar: Kereta Whoosh dan IKN. Dia ambil alih kerugiannya. Pakai apa? Tentu saja, APBN. Rakyatlah yang akhirnya harus menanggung beban dua proyek yang sarat korupsi itu.

Puncak kehancuran citranya datang bersamaan dengan mega bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Bencana itu bukan cuma air. Tapi lumpur, kayu gelondongan, dan bebatuan. Di titik ini, politik Si Om sudah hancur lebur. Tak tertolong lagi.

Di mata publik, kesannya jadi begini: Pertama, Si Om banyak omong, mirip gaya Soekarno. Kedua, dia sebenarnya penakut. Ketiga, dia merasa dirinya "paling dibutuhkan" NKRI sikap arogan yang gak jelas dasarnya. Keempat, dia tak pernah lepas dari hitung-hitungan bisnis. Ayahnya ekonom besar, keluarganya pebisnis. Wajar kalau logika dagang selalu mengemuka.

Setelah Anies kalah di Pilpres 2024 lalu, kami sempat pesimis. Tapi lihatlah sekarang. Angin perubahan yang dulu digaungkan Anies justru bertiup kencang lagi. Alhamdulillah. Terus berjuang, Pak. Sampai kedaulatan rakyat benar-benar tegak. Amiin ya Rabbal 'alamiin.

Di sisi lain, kabar buruknya masih ada. Mayoritas orang Indonesia ternyata masih sulit memilih jalan keadilan. Mereka gampang sekali ditipu corong-corong mafia. Ini tantangan terberat. Lebih dari 50% rakyat dewasa mudah dibohongi. Kalau mafia bisa menangkan suara segitu, ya mereka menang.

Dan satu hal lagi. Politik MAFIA sudah menguasai enam struktur penentu kemenangan: KPU, Bawaslu, MK, lembaga survei, media mainstream, dan kepolisian. Mereka pegang kendali di sana.

Sepertinya, Si Om sendiri tak terlalu cemas dengan citranya yang anjlok. Dia masih punya senjata andalan: MBG dan dana APBN untuk honor pegawai. Dan tentu saja, kontrol atas enam struktur tadi.

Lalu, strategi apa yang bisa menyelamatkan rakyat dari penipuan kolosal lima tahunan ini? Secara teori, sulit. Bahkan dalam sejarah, belum pernah ada contohnya.

Mungkin harapan kita cuma satu: menunggu sebuah anomali. Sebuah momen "out of the matrix". Keadaan yang tak biasa, algoritma yang macet. Itu peluang langka yang tak terprediksi. Sebagai bangsa yang puluhan tahun ditipu kaum zholim, pasti ada celah perubahan yang Allah sisakan. Masak iya perjuangan orang-orang baik selama ini zonk semua? Tentu tidak.

Bentuk keadilan seperti apa nantinya? Biarlah Allah yang wujudkan sesuai hikmah-Nya. Yang penting kita sudah berusaha semampunya. Andaikan kami mati dalam keadaan negeri masih dikuasai mafia seperti sekarang semoga keadilan itu Allah anugerahkan untuk generasi setelah kami.

Teringat ucapan Pemimpin Taliban, Mullah Umar rahimahullah, saat memulai gerilya kembali.

"Amerika menjanjikan kebinasaan bagi kami, sedang Allah menjanjikan kemenangan. Dari dua janji ini, siapa yang menepati janjinya? Mari kita sama-sama menunggu."

Kalau dihitung-hitungan politik, memang hampir tak ada harapan. Tapi kalau ingat janji Allah… "Wal aqibatu lil muttaqiin". Akhir yang baik adalah untuk orang-orang yang bertakwa.

Demikian. Wallahu A'lam bis showaab.

Rajab 1447 H

(Sam Waskito)

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar