Edi Kemput: Dari Distorsi Gitar ke Suara Hati Nurani

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 14:25 WIB
Edi Kemput: Dari Distorsi Gitar ke Suara Hati Nurani
Edi Kemput: Suara Gitar dan Hati Nurani

Edi Kemput: Suara Gitar dan Hati Nurani

Industri musik kita? Seringkali cuma soal glamor panggung dan gebyar popularitas. Tapi coba lihat sosok Triwitarto Edi Purnomo, atau yang lebih akrab disapa Edi Kemput. Bagi gitaris rock papan atas ini, musik jauh lebih dalam dari sekadar bunyi yang merdu. Ia menjadikannya alat kepedulian, ruang untuk refleksi, dan yang paling kuat sebuah tanggung jawab moral.

Lahir di Samarinda, 10 April 1966, perjalanan Edi mengikuti denyut musik Indonesia sejak era 80-an. Semuanya berawal polos saat ia masih duduk di bangku SMP. Lagu pertama yang ia mainkan? Bukan riff rock keras, melainkan “Naik-naik ke Puncak Gunung”.

“Lagu pertama yang saya mainkan itu lagu anak-anak Naik-naik ke Puncak Gunung,” kenangnya sambil tersenyum.

Dari situ, jarinya mulai lincah berpindah akor, perlahan merambah ke lagu-lagu ciptaan Rinto Harahap. Sebuah awal yang sederhana untuk sebuah perjalanan panjang.

Dari Surabaya ke Panggung Rock

Memasuki SMA Negeri 2 Surabaya, seleranya mulai berubah. Ia dan kawan-kawannya mulai tertarik pada musik instrumen, mengagumi Bujana dan band Squirrel. Mereka memainkan karya-karya Indra Lesmana sampai Casiopea. Tapi Edi enggan menyebutnya jazz.

“Kalau dibilang jazz terlalu luas. Kami menyebutnya lagu-lagu instrumen,” ujarnya.

Kuliah di Ilmu Komunikasi Unitomo pun tak bertahan lama. Dunia kampus terasa terlalu sempit. Saat itu, industri musik sudah mengetuk pintunya dengan lebih keras.

Titik baliknya terjadi tahun 1984. Ia bergabung dengan Grass Rock. Nama band itu punya filosofi: ‘grass’ yang artinya tumbuh di mana saja, harapan agar musik mereka bisa diterima semua kalangan. Mereka menempuh jalan yang keras, blusukan dari festival ke festival.

Hasilnya? Juara 1 Log Zelebour 1986 adalah puncaknya. Prestasi personal juga mengalir: Edi meraih The Best Guitarist dua kali. Puncak pengakuan lainnya adalah ketika Grass Rock dipercaya jadi band pembuka tur God Bless di sepuluh kota. Saat itulah mereka resmi dianggap sebagai bagian dari elite rock nasional.

Melalui lima album, lagu-lagu seperti “Peterson (Anak Rembulan)” dan “Bersamamu” menjadi hits yang melekat. Mereka berdiri sejajar dengan God Bless, SAS, atau Elpamas.

Melampaui Batas Genre

Namun nama Edi Kemput tak cuma melekat pada satu band. Ia dikenal sebagai gitaris serba bisa, additional player yang diandalkan. Ia pernah berkolaborasi dengan Erwin Gutawa Orchestra, ikut proyek bersama Chrisye, Krisdayanti, hingga Iwan Fals.

“Yang paling mempengaruhi saya itu Erwin Gutawa. Dia membuka cara pandang bermusik yang lebih luas,” tuturnya.

Kolaborasi dengan Iwan Fals di album ‘Orang Gila’ menunjukkan fleksibilitasnya. Dari rock keras ke pop progresif, ia menguasai semuanya.

Sebuah Hijrah yang Mengubah Segalanya

Tapi hidup di puncak ternyata punya bayangan yang gelap. Citra rocker sering dikaitkan dengan gaya hidup hedon. Edi pun merasakan titik jenuh yang dalam. Tahun 2003, ia memutuskan berubah.

“Capek. Jiwa capek,” katanya, mengungkapkan alasan sederhana yang terdalam.

Latar belakang keluarga yang religius, serta pernikahannya, menjadi penahan. Ia memilih untuk hijrah. Transformasi ini tak membuatnya menjauh dari dunia. Justru sebaliknya.

Kini, ia aktif mendatangi lapas, komunitas punk, dan kelompok yang terpinggirkan. Bukan untuk menggurui, tapi benar-benar berbagi pengalaman.

“Bukan tausiah, tapi sharing,” ujarnya merendah.

Ia terlibat di Hijrah Fest Palu 2018 dan berbagai kajian untuk musisi. Baginya, musik dan iman bisa berjalan beriringan.

Musik sebagai Jembatan Empati

Dalam berbagai aksi solidaritas, seperti untuk korban bencana di Sumatera, Edi punya prinsip yang jelas. Musik harus jadi jembatan empati, bukan alat pencitraan.

“Yang paling penting bukan seberapa besar nilainya, tapi seberapa ikhlas kita berbagi. Di mata Allah, keikhlasan jauh lebih berharga daripada angka,” tegasnya.

Ia juga tak segan menyampaikan kritik pada penguasa. Menurutnya, banyak bencana yang berulang bukan semata takdir alam, tapi buah dari kelalaian dan ketidakamanahan.

“Pemimpin harus jujur dan amanah. Kalau tidak, yang selalu menjadi korban adalah rakyat,” pesannya keras.

Kini, di usianya yang hampir 60 tahun, distorsi gitarnya masih berbunyi. Tapi sekarang, suara itu disertai dengan kesadaran dan empati yang matang. Di tengah negeri yang rentan, Edi Kemput mengingatkan kita bahwa musik, iman, dan kepedulian pada sesama haruslah menyatu. Bukan sebagai gimmick, tapi sebagai komitmen hidup yang nyata.

“Sebagai musisi atau seniman sebaiknya kita jangan hanya berteriak pada kepentingan golongan atau komunitas saja. Memiliki empati juga harusnya luas karena kita punya hati nurani sebagai manusia untuk berbagi pada segala hal,” tutupnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar