Di sisi lain, pihak Nigeria punya cerita yang agak berbeda. Mereka menyatakan bahwa operasi Kamis lalu itu adalah aksi bersama. Bahkan, menurut klaim mereka, Nigeria memberikan dukungan intelijen yang penting bagi AS.
Wilayah barat laut Nigeria sendiri sudah lama jadi daerah rawan. Sejak 2009, pemberontakan kelompok bersenjata terus menghantui kawasan itu. Belakangan, situasinya makin runyam. Laporan penculikan dan penyergapan di jalan-jalan terpencil semakin sering terdengar.
Kondisi keamanan yang buruk ini menarik perhatian AS, terutama karena banyaknya kabar bahwa kelompok Kristen sering jadi korban. Namun begitu, analisis independen dan juga pernyataan resmi pemerintah setempat menyebutkan bahwa serangan-serangan itu sebenarnya tidak memandang agama. Korban berasal dari berbagai latar belakang kepercayaan, bukan hanya umat Kristen.
Artikel Terkait
Anggota DPR Nilai PP TUNAS Bentuk Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak
17 Warga Gugat Ditreskrimum Polda Metro Jaya atas Penanganan Kasus Ijazah Jokowi
Putri Wakil DPRD Sulsel Kelola 41 Dapur Makanan Gratis Senilai Rp61,5 Miliar
Idrus Marham Kritik Komunikasi Pemerintah, Juru Bicara dan Menteri Dinilai Belum Maksimal