Pada Hari Natal lalu, Amerika Serikat melancarkan serangan udara di Nigeria. Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa sasaran operasi itu adalah sebuah kamp ISIS yang berlokasi di wilayah barat laut negara tersebut.
Soal izin, Washington sudah dapat lampu hijau. Seorang pejabat Pentagon yang enggan disebutkan namanya mengatakan pada Jumat bahwa serangan ini memang sudah dapat persetujuan dari Pemerintah Nigeria.
“Serangan ini sudah disetujui Pemerintah Nigeria,” ujarnya.
Meski begitu, pejabat itu tak mau berkomentar lebih jauh. Ia tidak menjelaskan apakah Nigeria benar-benar terlibat langsung dalam penyerangan atau tidak.
Di sisi lain, pihak Nigeria punya cerita yang agak berbeda. Mereka menyatakan bahwa operasi Kamis lalu itu adalah aksi bersama. Bahkan, menurut klaim mereka, Nigeria memberikan dukungan intelijen yang penting bagi AS.
Wilayah barat laut Nigeria sendiri sudah lama jadi daerah rawan. Sejak 2009, pemberontakan kelompok bersenjata terus menghantui kawasan itu. Belakangan, situasinya makin runyam. Laporan penculikan dan penyergapan di jalan-jalan terpencil semakin sering terdengar.
Kondisi keamanan yang buruk ini menarik perhatian AS, terutama karena banyaknya kabar bahwa kelompok Kristen sering jadi korban. Namun begitu, analisis independen dan juga pernyataan resmi pemerintah setempat menyebutkan bahwa serangan-serangan itu sebenarnya tidak memandang agama. Korban berasal dari berbagai latar belakang kepercayaan, bukan hanya umat Kristen.
Artikel Terkait
Studi Buktikan AI Tingkatkan Akurasi Diagnosis Dokter di Rwanda dan Pakistan
Harga Cabai Rawit di Maros Tembus Rp55 Ribu per Kg Jelang Ramadan
SIM Keliling Polrestabes Bandung Buka di Dua Lokasi Rabu Ini
Benjamin Sesko Selamatkan MU dari Kekalahan dengan Gol Injury Time Lawan West Ham