Di tengah suasana Natal yang sepi, sebuah toko ikan dan kentang goreng di Liverpool justru ramai. Pemiliknya, seorang Muslim, sengaja membuka pintu untuk memberikan makanan gratis bagi siapa saja yang membutuhkan.
Mubinul Hoque, pemilik Portland's Fish and Chips, sudah yang kedua kalinya melakukan ini. Tahun lalu ia mendapat sambutan hangat, dan tahun ini ia kembali membuka gerai pada 25 Desember. Tujuannya sederhana: memberi dukungan. Staf NHS yang lelah, para pengasuh, petugas darurat, hingga warga lanjut usia yang rentan menjadi sasarannya. Bahkan, siapa pun yang merasa sendirian di hari raya itu dipersilakan mampir.
“Kami ingin memberi kembali ke masyarakat. Ini juga bagian dari keyakinan kami,” ujar Hoque kepada beberapa media lokal.
Ia melanjutkan, “Kami kan tidak merayakan Natal. Daripada tokonya tutup dan sepi, kenapa tidak dimanfaatkan saja untuk hal yang berguna? Jadi ya, kami putuskan untuk berbagi.”
Di sisi lain, aksi sederhana ini punya makna yang dalam. Fish and chips sendiri bukan sekadar makanan. Hidangan ikonik Inggris yang terdiri dari ikan goreng tepung dan kentang goreng tebal ini sudah jadi simbol kenyamanan sejak abad ke-19. Menikmatinya di hari Natal, apalagi secara cuma-cuma, tentu membawa kehangatan tersendiri.
Foto-foto yang beredar menunjukkan antrean dan senyum para penerima. Suasana di dalam toko terlihat hangat, jauh dari kesan formal. Sepertinya, bagi banyak orang yang datang, seporsi fish and chips gratis itu lebih dari sekadar makan siang. Itu adalah pengingat bahwa di tengah perbedaan, masih ada rasa peduli.
Artikel Terkait
Gadis 6 Tahun WNI Tewas Tertabrak Mobil di Chinatown Singapura
PKL Makassar Cat Lapak Kuning, Pemkot Tegaskan Itu Tetap Pelanggaran
Megawati Terima Doktor Kehormatan di Arab Saudi, Tekankan Pemberdayaan Perempuan Kunci Kemajuan Negara
Megawati Raih Doktor Honoris Causa dari Universitas Perempuan Terbesar di Dunia