GAZA Di sebuah sudut halaman Rumah Sakit Al-Shifa, suara sorak-sorai dan tepuk tangan justru terdengar Kamis lalu. Suara itu menandai sebuah momen langka: wisata bagi 170 dokter Gaza. Mereka baru saja menyandang gelar sertifikasi dari Dewan Kedokteran Palestina.
Yang membuatnya luar biasa, upacara sederhana ini digelar di tengah reruntuhan. Al-Shifa sendiri bukan tempat asing bagi serangan. Sejak 2023, kompleks medis terbesar di Gaza ini berkali-kali jadi sasaran, meninggalkan kerusakan yang nyata. Tapi di halaman yang sama, para dokter ini merayakan pencapaian intelektual mereka.
Mereka dijuluki "Kelompok Perisai Kemanusiaan." Julukan itu pas. Bagaimana tidak? Pelatihan medis dan pendidikan profesional mereka ditempuh dalam kondisi nyaris mustahil. Pemboman terus berlangsung, fasilitas kesehatan hancur berantakan, infrastruktur medis ambruk. Tapi mereka bertahan.
"Ini adalah pesan ketahanan," begitu kira-kira semangat yang terdengar dari upacara itu. Sebuah tekad bulat untuk terus belajar, demi melayani masyarakat di sistem kesehatan yang sudah kelebihan beban. Korban jiwa berjatuhan, sementara obat dan alat kesehatan sangat kritis.
Wisuda ini punya makna simbolis yang kuat. Ia seperti secercah cahaya di lorong gelap. Acara ini juga jadi penanda bahwa upaya restorasi layanan dasar di Al-Shifa perlahan membuahkan hasil. Baru-baru ini, lantai dasar dan unit operasi di Gedung Timur berhasil direnovasi.
Di sisi lain, fakta yang ada tetap menyayat hati. Menjelang akhir 2025, data menyebutkan 94% rumah sakit di Gaza rusak atau hancur total. Dalam konteks itu, kelulusan 170 dokter ini adalah sebuah tonggak penting. Sebuah langkah kecil untuk membangun kembali sektor kesehatan yang porak-poranda.
[VIDEO]
Artikel Terkait
Organisasi Ulama Internasional Dukung Iran dan Peringatkan Risiko Eskalasi Konflik
Pemerintah Rilis Jadwal Lengkap TKA 2026 untuk Siswa SD dan SMP
Manchester City Kalahkan Liverpool 2-1 Berkat Gol Telat Haaland
Bayern Munich Hajar Hoffenheim 5-1, Luis Díaz Cetak Hattrick