"Hulunya ini adalah vokasi, pendidikan, pelatihan, baik bahasa maupun skill," ucap Mukhtarudin menekankan. "MoU hari ini strategis untuk menyiapkan dari sisi hulu."
"Kami yang melakukan pemetaan peluang kerja luar negerinya, kompetensi apa yang dibutuhkan. Lalu kami jembatani dengan Kementerian Pendidikan Tinggi. Harapannya, ini bisa menjadi satu sistem yang solid," tambahnya.
Di sisi lain, Mendikti Saintek Brian Yuliarto punya gambaran tentang eksekusi di lapangan. Ke depannya, kementeriannya akan mengajak perguruan tinggi, khususnya vokasi, untuk merancang program penyiapan khusus. Program ini rencananya bisa diambil mahasiswa sebagai mata kuliah pilihan di semester akhir.
"Nanti kita akan ajak perguruan tinggi yang tertarik untuk dibuat petanya," jelas Brian. "Misal, perguruan tinggi A menyiapkan SDM dengan keterampilan tertentu, termasuk menyasar negara tujuan tertentu. Penyiapan bahasanya akan difokuskan di tingkat akhir."
"Mahasiswa yang tertarik silakan memilih program ini. Jadi ketika lulus, mereka sudah punya kualifikasi sebagai SDM unggul, dengan kemampuan bahasa dan keterampilan yang memadai," ujar dia menutup penjelasannya.
Kerja sama ini, jika berjalan mulus, bisa mengubah wajah pekerja migran Indonesia. Dari yang sekadar mengandalkan tenaga, menjadi pekerja terampil yang dihargai. Tentu, jalan menuju sana masih panjang. Tapi setidaknya, langkah awal sudah diambil.
Artikel Terkait
Bahlil: 20 Proyek Hilirisasi Tahap Awal Sudah Mulai, Investasi Capai Rp239 Triliun
Warga Makassar Bentrok dengan Petugas Tolak Penggusuran Kios di Jalan Satando
Pokon, Hidangan Khas Toraja yang Sarat Makna dalam Ritual Rambu Solo
Video Viral: Juru Parkir di Makassar Acungkan Pisau Saat Bentrok dengan Warga