"Kita sedang mengembangkan Impact Based Forecasting atau IBF," kata Faisal, menyebut kolaborasinya dengan BNPB, Kementerian PUPR, dan ESDM.
Nantinya, informasi dari BMKG tak lagi sekadar angka intensitas hujan. Lebih dari itu, akan dijelaskan juga potensi risiko yang mengintai di lapangan.
"Jadi ketika BMKG memberikan informasi mengenai hujan, itu akan terjadi di daerah mana, intensitasnya bagaimana," ujar Faisal.
"Lalu kita analisis dampaknya: apakah berpotensi longsor, atau memicu banjir di wilayah yang diguyur hujan tersebut," lanjutnya.
Caranya? Dengan memadukan prakiraan cuaca yang sudah ada dengan peta kerentanan suatu wilayah. Hasilnya diharapkan bisa jadi alarm yang lebih spesifik dan mudah dimengerti.
"Prakiraan meteorologi akan di-overlay dengan kondisi kerentanan daerah. Itulah inti dari IBF yang kami kembangkan," paparnya.
Sebenarnya, secara teknis kemampuan prediksi BMKG sudah cukup mumpuni. Akurasinya tinggi untuk prakiraan hingga tujuh hari ke depan. Namun, Faisal mengakui, penyiapan peta kerentanan yang detail masih jadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum sistem ini bisa jalan sempurna.
"Banyak hal yang perlu diperkuat, terutama peta kerentanannya. Tapi dari sisi prakiraan, kami sudah siap," tandasnya.
Artikel Terkait
Kepatuhan LHKPN DPR Terendah, Hanya 55,14% yang Lapor
Gubernur Malut Kunjungi Makassar untuk Pelajari Strategi Peningkatan PAD dan Pengendalian Inflasi
Ramadhan Sananta Dihujat Rasis Usai Laga, Gelombang Kecaman Bergulir
Anggota DPR Nilai PP TUNAS Bentuk Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak