Di sisi lain, tawa riang mereka memang berhasil mengusir bayangan trauma bencana. Tapi coba diamati lebih dalam. Di balik celoteh dan canda itu, tersimpan cerita pilu tentang rumah yang hilang, buku-buku sekolah yang basah, dan rutinitas sehari-hari yang tiba-tiba terhenti.
Bencana ini jelas mengganggu dunia pendidikan. Sudah hampir sebulan kegiatan belajar mengajar di sana libur total. Ruang kelas masih terendam lumpur, belum layak untuk diisi. Makanya, aktivitas bermain di pengungsian seperti ini jadi hibatan utama, satu-satunya pengisi waktu selama masa darurat berlangsung.
Lapangan berlumpur itu telah berubah fungsi. Dari tempat upacara dan olahraga, kini menjadi ruang bermain seadanya sekaligus ruang terapi untuk memulihkan jiwa-jiwa kecil yang terdampak.
Artikel Terkait
Bripka Septian Gugur Saat Amankan Mudik di Pekalongan
Kemenhub Imbau Pemudik Manfaatkan WFA untuk Hindari Puncak Arus Balik 24 Maret
Anggota DPR Tolak Wacana Sekolah Daring Mulai 2026, Ingatkan Trauma Learning Loss
Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal