Di tengah puing-puing yang masih berdebu, sosok berjubah putih itu berdiri. Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, matanya menyapu pemandangan Kota Gaza yang hancur. Reruntuhan di sekelilingnya bukan cuma tumpukan batu dan besi, tapi sisa-sisa kehidupan yang tiba-tiba terenggut.
Suaranya, meski lelah, terdengar tegas saat ia berbicara.
“Kita akan membangun kembali rumah dan sekolah kita. Tak hanya itu, kita akan bangun lagi kehidupan kita. Kita dari sini. Dan kita akan tetap di sini.”
Kata-katanya itu bukan sekadar janji. Itu adalah deklarasi keberadaan, sebuah penolakan untuk diusir dari tanah yang telah menjadi rumah bagi komunitasnya selama berabad-abad.
Yang sering luput dari perhatian banyak orang adalah dampak konflik ini yang tak pandang bulu. Memang, penderitaan umat Muslim di Gaza sudah sangat luas diliput. Tapi di sisi lain, ada cerita lain yang juga pilu. Kekerasan yang terjadi ternyata juga merenggut nyawa umat Kristen. Gereja-gereja bersejarah tak luput dari penghancuran. Yang terancam punah bukan hanya bangunan, melainkan salah satu komunitas Kristen tertua di dunia, yang akarnya sudah menancap jauh sebelum banyak negara modern berdiri.
Melihat ini, rasanya wajar jika kemarahan muncul. Setiap umat Katolik, setiap orang Kristen yang melihat saudara seimannya menderita, pasti geram. Para pemimpin gereja mana pun, seharusnya, turut merasakan amarah yang sama.
Gambar-gambar di bawah ini bicara lebih keras dari kata-kata. Mereka mengabadikan betapa parahnya kehancuran itu. Setiap foto adalah saksi bisu dari sebuah tragedi yang mengikis warisan kemanusiaan dan sejarah.
Artikel Terkait
Anggota IV BPK Haerul Saleh Meninggal Dunia dalam Kebakaran Rumah di Jakarta Selatan
Harga Emas Batangan di Pegadaian Stabil, Investor Wait and See
Pemprov Sulsel Usul Kenaikan Tarif BBNKB dari 7 Persen Menjadi 10 Persen
Bupati Bone Terobos Banjir di Watampone, Borong Kue Pedagang untuk Korban