Di tengah puing-puing yang masih berdebu, sosok berjubah putih itu berdiri. Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, matanya menyapu pemandangan Kota Gaza yang hancur. Reruntuhan di sekelilingnya bukan cuma tumpukan batu dan besi, tapi sisa-sisa kehidupan yang tiba-tiba terenggut.
Suaranya, meski lelah, terdengar tegas saat ia berbicara.
Kata-katanya itu bukan sekadar janji. Itu adalah deklarasi keberadaan, sebuah penolakan untuk diusir dari tanah yang telah menjadi rumah bagi komunitasnya selama berabad-abad.
Artikel Terkait
KPK Cabut Status Tahanan Rumah, Yaqut Kembali ke Rutan
Ambulans Terjebak Macet Parah di Jalur Cibadak Akibat Motor Ngeblong
Tudingan Jual Beli SK Kepengurusan Rp5 Miliar Guncang KNPI Sulsel
Foto Viral Pengisian Jerigen Solar Subsidi di SPBU Sinjai Picut Kecaman Warga