Menteri Agama Soroti Perbedaan Mendasar: Pendidikan Islam Bukan Sekadar ITB Plus Akhirat

- Senin, 22 Desember 2025 | 19:06 WIB
Menteri Agama Soroti Perbedaan Mendasar: Pendidikan Islam Bukan Sekadar ITB Plus Akhirat

Di Hotel Vertu, Jakarta Pusat, Senin lalu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan yang tegas. Intinya, pendidikan Islam jangan sampai disamakan begitu saja dengan pendidikan umum. Menurutnya, perbedaan mendasar antara keduanya harus benar-benar jelas, mulai dari cara memandang realitas (ontologi), cara memperoleh pengetahuan (epistemologi), hingga nilai dan tujuannya (aksiologi).

"Kita harus berbeda antara pendidikan Islam dengan pendidikan umum," ujarnya dalam sambutan penerimaan mahasiswa baru PTKIN.

Nasaruddin, yang juga Guru Besar Tafsir, terlihat serius. "Ontologinya bedanya apa, epistemologinya bedanya apa, aksiologinya pun juga bedanya apa, dan kita harus clear jelas di situ. Nah saya belum lihat roadmap-nya ontologi kita bedanya apa, distingsinya apa."

Ia lantas meminta perhatian. "Saya sudah sampaikan beberapa kali, mohon Pak Dirjen diterjemahkan sedikit yang saya, mungkin saya salah tapi kesepakatan itu lebih utama."

Menurutnya, saat ini setidaknya ada tiga rumpun pendidikan yang mesti dipisahkan secara tegas: pendidikan umum (sekuler), pendidikan Islam, dan pesantren. Yang terakhir ini ia sebut lebih takhassus atau bersifat spesialisasi.

Namun begitu, batas antara pendidikan Islam dan pesantren sendiri masih kabur. "Apa perbedaan nomenklaturnya, apa perbedaan ontologi pendidikan Islam dan pendidikan pondok pesantren? Epistemologinya apa bedanya?" tanyanya. "Ini harus bagi tiga ini: pendidikan umum, pendidikan Islam, dan pendidikan pesantren."

Untuk memperjelas, ia memberi contoh konkret. Ontologi pendidikan umum, seperti di ITB atau UGM, bertumpu pada alam yang bisa diindra dan dirasionalkan semata.

"Tapi harusnya kita ikut-ikutan dengan ITB? Ontologi kita beda," tegas Imam Besar Masjid Istiqlal ini. Suaranya meninggi untuk penekanan. "Definisi alam kita beda dengan ITB. ITB alam itu adalah yang bisa diindra. Nah, kita tidak memasukkan alam akhirat sebagai ontologi keilmuan, rusak akidah kita, kan?"

Dari perbedaan mendasar ini, lanjutnya, logis jika epistemologi dan aksiologinya pun nanti akan berbeda. Pendidikan umum sering berangkat dari keraguan. Sementara dalam Islam, bisa dimulai dari keyakinan dulu, baru kemudian mencari pembenarannya. Tujuannya pun lain.

"Aksiologinya tentulah beda, kita kan tujuannya sampai akhirat. ITB itu nggak ada urusan akhiratnya," ucap Nasaruddin dengan nada khasnya.

Ia juga menyentuh soal metodologi. Ambil contoh perbandingan antara historiografi umum dengan ilmu hadis (ulumul hadis). Cara menilai kebenaran dan otentisitasnya jelas berbeda. Bahkan, cakupan ontologi pesantren bisa lebih dalam lagi dibanding pendidikan Islam secara generik.

Di sisi lain, Nasaruddin menyoroti kriteria dosen di perguruan tinggi keagamaan. Menurutnya, tak cukup hanya bermodal keilmuan akademis belaka.

"Harusnya profesor dosen itu bukan saja ilmunya maqamnya profesor, tapi kepribadiannya juga, attitude-nya, bahkan kedekatan dirinya juga," kata dia.

Di akhir paparannya, ia menutup dengan permintaan evaluasi menyeluruh. Tanpa distingsi yang jelas, eksistensi perguruan tinggi agama akan kehilangan warna.

"Kalau hanya satu standar untuk semuanya ya berarti kita nggak punya distingsi," pungkasnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar