Dari Jualan 100 Butir ke Ribuan: Kisah Yayak dan Telur Asin yang Mengubah Nasib

- Senin, 22 Desember 2025 | 17:00 WIB
Dari Jualan 100 Butir ke Ribuan: Kisah Yayak dan Telur Asin yang Mengubah Nasib

Dulu, Yayak Surayak cuma berjualan telur asin dari rumah. Sekarang? Hidupnya berubah total. Semuanya berkat program Makan Bergizi Gratis alias MBG yang menampung hasil usahanya.

Bayangkan saja, sebelumnya dalam seminggu ia cuma bisa menjual 100 hingga 200 butir. Angka yang biasa-biasa saja. Tapi sejak jadi pemasok untuk dapur MBG, permintaannya melonjak drastis. Sekarang, tiap Minggu ia bisa mengirim 3.000 sampai 5.000 butir telur asin. Itu artinya kenaikan omzetnya mencapai ribuan persen.

“Alhamdulillah, sejak adanya MBG di sini, peternak itik seperti kami menjadi sangat terbantu,” ujar Yayak saat kami temui di rumahnya di Dusun Penjalinan, Madiun, akhir pekan lalu.

Ia melanjutkan dengan semangat, “Kalau selama ini kami hanya bisa menjual 100 sampai 200 butir per minggu, sekarang sekali kirim bisa 3.000 sampai 5.000 butir telur asin dan langsung dibayarkan.”

Efeknya ternyata tak cuma dirasakan Yayak dan keluarganya. Usaha kecil ini jadi penopang buat tetangga sekitar. Dulu ia mengerjakan semuanya sendirian. Kini, dengan volume produksi yang besar, ia butuh bantuan.

“Sekarang ada 4 sampai 5 orang yang membantu, sementara satu orang lagi untuk packing,” katanya sambil tersenyum.

Menariknya, telur asin untuk program MBG punya kriteria khusus. Menurut permintaan SPPG, rasanya tak boleh terlalu asin. Hal ini justru memangkas waktu produksi. Proses pengasinan yang biasanya makan waktu 12-15 hari, kini cuma butuh 7-8 hari saja.

“Waktu pengasinannya lebih cepat, supaya tidak terlalu asin,” jelas Yayak.

Melihat permintaan yang terus mengalir dari beberapa dapur MBG di Kecamatan Sumber Sari, pria ini mulai berpikir lebih jauh. Ia berencana memperbesar kandang dan menambah jumlah itik peliharaannya. “Kita tambah bebeknya, kita kembangkan usaha peternakannya dulu,” ucapnya penuh rencana.

Tak heran jika Yayak berharap program ini terus berjalan. Bukan cuma soal angka, tapi juga dampak riil yang dirasakan banyak orang.

“Sebab, perajin kecil seperti saya ini sangat terbantu,” tandasnya. “Omzetnya naik sampai 3000 persen, perputarannya cepat, dan sampai ke kami-kami ini. Selain itu, banyak warga yang bisa bekerja.”

Dari seorang peternak kecil, Yayak kini jadi bukti nyata. Sebuah program yang tepat sasaran bisa menggerakkan roda ekonomi warga, menciptakan lapangan kerja, dan tentu saja, mensejahterakan keluarga.

Komentar