“Mereka memeras pengusaha, meminta uang dengan jumlah beragam sebagai ‘jaminan’ keselamatan,” ujar Kejaksaan Agung.
“Tak sedikit korban yang terpaksa menutup bisnisnya karena ketakutan,” lanjut pernyataan itu.
Pertanyaan di Balik Hukuman Fantastis
Meski publik mendukung hukuman bagi penjahat, banyak yang mempertanyakan proses hukumnya. Apakah semua ini sudah mengikuti prosedur yang semestinya?
“Sayangnya, tidak ada transparansi dalam proses peradilan,” kata Samuel Ramirez dari gerakan korban HAM, MOVIR.
Dia curiga, vonis-vonis berangka ratusan tahun itu lebih sebagai strategi marketing populis. Sebuah cara yang menguntungkan citra Presiden Bukele, ketimbang murni penegakan hukum yang berkeadilan.
Artikel Terkait
Warga Makassar Bentrok dengan Petugas Tolak Penggusuran Kios di Jalan Satando
Pokon, Hidangan Khas Toraja yang Sarat Makna dalam Ritual Rambu Solo
Video Viral: Juru Parkir di Makassar Acungkan Pisau Saat Bentrok dengan Warga
Pantai Mandala Ria Bulukumba: Pesona Alam dan Jejak Sejarah Operasi Mandala