Gubernur Bali Bantah Isu Sepi Liburan, Data Kunjungan Tembus 20 Ribu Per Hari

- Senin, 22 Desember 2025 | 13:00 WIB
Gubernur Bali Bantah Isu Sepi Liburan, Data Kunjungan Tembus 20 Ribu Per Hari

Isu tentang Bali yang sepi menjelang libur Natal dan Tahun Baru sempat ramai di media sosial. Tapi Gubernur Bali, Wayan Koster, dengan tegas membantahnya. Menurutnya, itu cuma kabar yang nggak benar.

Dia punya datanya. Dari Bandara I Gusti Ngurah Rai, setiap hari masih ada 17 ribu sampai 20 ribu wisatawan mancanegara yang masuk. "Bohong," tegas Koster usai rapat di Gedung Wisma Sabha, Senin lalu.

"Saya punya data tiap hari total nett-nya tuh, sekarang ini per harinya 17 ribu wisatawan asing, sebelumnya 20 ribu."

Soal hunian hotel? Angkanya juga cukup bagus. Koster bilang, okupansinya berkisar antara 60 sampai 80 persen. Kawasan seperti Sanur dan Nusa Dua bahkan mencapai 80 persen. Jadi, mana mungkin dibilang sepi?

Musim Hujan dan Kebiasaan Turis yang Berubah

Lalu, kenapa jalanan terlihat lebih lengang? Koster punya penjelasannya. Saat ini kan musim hujan. Karakter liburan para turis pun berubah. Banyak yang lebih memilih untuk bersantai di dalam penginapan atau hotelnya saja, menikmati fasilitas, ketimbang keliling. "Mungkin orang datang ke Bali tidak untuk jalan-jalan, banyak istirahat," ujarnya.

Jadi, kesan sepi itu cuma ilusi. Data dari Angkasa Pura dan pelaku usaha menunjukkan hal yang berbeda. Para sopir taksi yang mengeluh, rupanya keliru membaca situasi.

Koster sendiri optimis. Target 7 juta wisatawan sepanjang 2025 bakal tercapai. Hingga pertengahan Desember, angka kunjungan sudah menembus 6,7 juta. Padahal, sepanjang 2024 'hanya' 6,3 juta. "Ini akan naik, masih ada sisa waktu dua minggu lagi," katanya penuh keyakinan.

Memahami Ritme Kunjungan ke Bali

Kepala Dinas Pariwisata Bali, I Wayan Sumarajaya, ikut angkat bicara. Dia mengingatkan bahwa pariwisata Bali punya ritmenya sendiri. Puncaknya selalu terjadi antara Juni hingga September. Setelah itu, memang ada penurunan alami.

"Banyak yang bilang Bali sepi, tapi ritme kehadiran wisatawan tiap tahun memang ada high dan low season. High season di Juni, Juli, Agustus, dan September. Setelah itu ada penurunan alami, tapi tidak tajam. Menjelang Nataru akan naik lagi."

Memang, cuaca hujan berpengaruh. Tapi dampaknya nggak terlalu signifikan. Di beberapa spot wisata, keramaian justru mulai terasa. Yang penting, semua pihak harus siap siaga.

Pemprov Bali sudah mengeluarkan imbauan kepada pelaku usaha. Mereka diminta untuk menyiapkan langkah mitigasi jika terjadi bencana alam selama musim hujan. Selain itu, menjaga keamanan dan kebersihan objek wisata tetap jadi prioritas utama. Intinya, kenyamanan dan keselamatan tamu harus diutamakan, apapun cuacanya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar