Wajah-wajah di Desa Pagaran Lambung I mulai terlihat cerah. Setelah diterjang banjir dan longsor, bantuan akhirnya berdatangan. Listrik dan internet yang sempat putus, perlahan-lahan kembali normal. Di tenda pengungsian, aktivitas mulai terasa: ada yang sibuk memasak, sebagian lagi sudah bisa memegang ponsel, mengabari keluarga di luar bahwa mereka baik-baik saja.
Memang, Tapanuli Utara termasuk wilayah terparah di Sumut. Beberapa daerah sempat benar-benar terisolasi, putus dari dunia luar. Tapi kini, situasi pelan-pelan berubah.
“Bantuan dari mana-mana sudah sampai, baik dari donasi maupun pemerintah. Untuk komunikasi, ada Starlink yang membantu. Listrik pun baru hari ini hidup,” ucap Hiras, saat ditemui di Gereja HKI Parsingkaman.
Ia mengaku, kehadiran Starlink itu sangat berarti. Warga akhirnya bisa menghubungi sanak saudara yang jauh, melegakan kekhawatiran mereka.
“Agak lega kami bisa berbicara dengan keluarga. Berita di media sosial kan sangat mencekam, jadi mereka pasti khawatir. Puji Tuhan, sekarang komunikasi lancar dan keadaan sudah kondusif. Mudah-mudahan semakin membaik, tidak ada bencana lagi,” harapnya.
Kecamatan Adiankoting adalah episentrum bencana di Taput, dengan korban jiwa mencapai 23 orang. Jalan nasional penghubung Tarutung ke Tapanuli Tengah dan Sibolga pun sempat terputus total akibat longsoran.
Meski begitu, upaya pemulihan berjalan. Akses di Parsingkaman mulai lancar, walau di KM 33,5 material longsoran masih menutupi jalan. Tim gabungan dari BNPB, TNI, dan Polri masih berjibaku membersihkannya agar konektivitas sepenuhnya pulih.
“Masyarakat sini sekarang sudah lega. Bantuan perbaikan jalan sudah datang, begitu juga tim pencarian korban sejak beberapa hari lalu. Pokoknya, semuanya sudah berjalan lancar,” tambah Hiras.
“Kami sangat berterima kasih. Bantuan itu benar-benar dirasakan. Semoga Tuhan memberkati semua yang telah membantu.”
Di lokasi lain, Bupati Tapanuli Utara Jonius Taripar Hutabarat turun langsung meninjau proses pengerukan dengan alat berat. Ia juga melihat kondisi jalan di KM 33,5 yang terputus sekitar 30 kilometer dari Tarutung dan 30 kilometer lagi menuju Sibolga.
“Terima kasih kepada seluruh lembaga, kelompok masyarakat, baik perorangan maupun organisasi yang telah membantu. Kami berusaha maksimal menyalurkan segala bantuan untuk warga terdampak,” ujarnya.
Jonius juga menyampaikan apresiasi kepada BNPB, TNI, dan Polri atas dukungan logistik dan tenaga dalam penanggulangan bencana ini.
“Saya lihat semuanya bersatu-padu, berkolaborasi. Ini yang kita butuhkan,” tegasnya.
Perhatian Beralih ke Aceh
Sementara di Aceh, upaya penanganan juga digenjot. Polri memberangkatkan Kapal Wisanggeni 8005 pada 3 Desember lalu untuk memperkuat penanganan banjir, terutama di Aceh Tamiang yang jadi prioritas.
Sebanyak 183 personel dikerahkan. Mereka berasal dari Polda Aceh dan Mabes Polri, yang akan diperbantukan untuk memperkuat Polres di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Langsa, dan Lhokseumawe.
Bantuan logistik berisi beras, mie, gula, kopi, hingga kebutuhan sanitasi dikirim via kapal dari Pelabuhan Malahayati menuju Krueng Geukueh. Dari sana, distribusi dilanjutkan ke lima wilayah terdampak.
Langkah ini diambil untuk mempercepat respons darurat, mengingat akses darat ke Aceh Tamiang masih sangat terbatas. Polri memastikan bantuan bisa tiba tepat waktu dan menjangkau semua titik yang membutuhkan.
Artikel Terkait
Trump Kecam Iran dengan Sindiran Pedas dan Gambar AI, Negosiasi Nuklir Makin Buntu
Mahfud MD Sorot Lemahnya Pengawasan Internal TNI dan Polri dalam Kasus Andrie Yunus
Jaksa Agung Lantik Sila H. Pulungan sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan
Keluarga Nahkoda Kapal Honour 25 yang Disandera Perompak Somalia Masih Menanti Kabar