Di TPU Kober, Jatinegara, pemandangannya memang tak biasa. Di antara barisan nisan yang rapat, anak-anak justru terlihat berlarian di jalan setapak. Ibu-ibu sibuk menjemur pakaian, sementara suara ayam dan kucing sesekali bersahutan. Intinya, kehidupan di sini berdenyut layaknya kampung pada umumnya.
Bagi banyak orang, bayangan tinggal di tengah kuburan mungkin menyeramkan. Tapi coba tanyakan pada warga yang sudah puluhan tahun menetap di sini. Bagi mereka, Kober justru adalah 'rumah' yang memberikan rasa aman dan nyaman, bukan ketakutan.
Husna (47) adalah salah satu yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di sini. Keluarganya pindah ke Kober pada 1980-an, setelah digusur dari Perumpung karena pembangunan jalan layang. "Lahir di Prumpung, pindah ke sini RT 1 RW 9 karena nyaman aja," kenangnya suatu hari di akhir November.
Sejak saat itu, pindah dari Kober sama sekali tak terpikirkan.
"Udah nyaman di sini," ujarnya singkat.
Rumahnya dihuni oleh tiga keluarga sekaligus orang tua, saudara, dan keluarga adiknya. Total dua belas orang hidup bersama di bawah satu atap. Mereka menjalani hari-hari dengan tenang, meski kadang mendapat pandangan miring dari orang luar.
"Orang lihat sisi gelapnya, 'Wah ini orang enggak bener'. Banyaklah. Sisi baiknya kan kita sendiri yang jalanin," ungkap Husna. Baginya, hidup di dekat area pemakaman adalah hal yang biasa saja. Bahkan, ia merasa lebih betah. "Nyaman aja. Enggak ada rasa ngeri. Biasa aja. Dibandingkan tinggal di kompleks mah mending di sini," ucapnya sambil tertawa kecil.
Di sisi lain, fasilitas hidup mereka sebenarnya cukup terorganisir. Warga membayar Pajak Bumi dan Bangunan, punya listrik mandiri, dan sumber air yang dikelola bersama.
"Ini awalnya tanah perairan. Bukan berarti tanah enggak punya surat. PBB ada," tegas Husna mengenai status tempat tinggalnya.
Soal air, ceritanya agak berliku. Dulu, mereka mengandalkan air tanah, tapi sempat kekeringan parah pasca banjir besar di era 90an yang merendam mesin-mesin pompa. "Airnya dicabut," kenangnya. Sekarang, sebagian besar keluarga mengambil air dari musala dengan iuran Rp 30 ribu per bulan. Untuk listrik, mereka membeli token sendiri. "Kalau lagi murah Rp 500, mahal Rp 800," katanya.
Tak hanya Husna, ada pula Nung (39) yang sejak lahir tak pernah meninggalkan Kober. Baginya, ini adalah rumah satu-satunya. "Di sini kan memang rumah sendiri. Jadi mau pindah ke mana. Nyaman banget, enak lingkungannya ramai," tuturnya. Ia tinggal berlima bersama anak-anaknya yang bersekolah tak jauh dari lokasi.
Anak-anaknya tumbuh dengan leluasa, bermain bersama tetangga tanpa rasa khawatir. "Akses aman. Namanya udah lama jadi udah kenal semua," ujar Nung.
Menurut sejumlah saksi, kehidupan sosial di kampung kuburan ini ternyata cukup solid. Ada arisan meski Nung mengaku tak pernah ikut dan sistem ronda malam yang tetap berjalan. Profesi warga beragam, dari office boy sampai pegawai kantoran, kata Husna.
Namun begitu, bantuan sosial dari pemerintah dirasakan tidak konsisten. Husna sempat mendapat bansos di masa pandemi, lalu hilang. "Enggak usah diharapkan kalau saya pribadi. Kalau masih kita mampu kita jalanin," katanya dengan sikap mandiri. Sementara Nung hanya mengandalkan Kartu Jakarta Pintar untuk dua anaknya. "Dari kecil di sini saya enggak dapet apa-apaan. Cuma KJP anak," katanya.
Isu penggusuran sempat mencuat setelah ada pendataan dari kelurahan. Tapi Husna tampaknya tak terlalu khawatir. Ia yakin pemerintah tak akan bertindak semena-mena. "Kita tinggal di sini ada surat juga. Enggak mungkin pemerintah menggusur semena-mena," ujarnya penuh keyakinan.
Kawasan yang ia sebut sebagai rumah itu terdiri dari 168 Kartu Keluarga. Rata-rata, setiap keluarga memiliki dua hingga tiga anak. Sebuah komunitas yang hidup, bernapas, dan bertahan di antara nisan-nisan di RT 1 RW 9, Kelurahan Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah