Petani Mempawah Asah Ketajaman Advokasi untuk Perjuangkan Hak

- Jumat, 21 November 2025 | 11:30 WIB
Petani Mempawah Asah Ketajaman Advokasi untuk Perjuangkan Hak
Pelatihan Advokasi untuk Petani Mempawah

Petani Mempawah Diberi Senjata Baru: Pelatihan Advokasi

Kabut pagi belum sepenuhnya hilang ketika puluhan petani dari berbagai penjuru Mempawah mulai berdatangan ke Kantor Desa Galang, Rabu (19/11/2025) lalu. Mereka berkumpul bukan untuk urusan panen atau bercocok tanam, melainkan untuk mengasah kemampuan yang tak kalah penting: beradvokasi.

Lembaga Gemawan, berkolaborasi dengan Jaringan Petani Komoditas atau yang akrab disapa Jaringpedas, menggelar pelatihan advokasi bagi para petani dampingannya. Tujuannya jelas, tapi tidak sederhana: memperkuat pola pikir, kapasitas, dan yang paling krusial, daya tawar mereka ketika memperjuangkan hak-haknya.

Rasidi, sang Kepala Desa Galang yang bertindak sebagai tuan rumah, tak menyembunyikan antusiasmenya. Menurutnya, pemahaman tentang advokasi ini adalah bekal penting. “Saya selaku kepala desa dan tuan rumah kegiatan ini merasa bangga dan bahagia,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pelatihan semacam ini membantu warganya memahami langkah-langkah konkret yang harus diambil saat menghadapi persoalan di lapangan.

Pesertanya sendiri cukup beragam, mewakili gabungan kelompok tani dari 15 desa di Mempawah dengan komoditas andalan masing-masing. Mereka duduk berkelompok, serius mendiskusikan dan memetakan persoalan yang selama ini membelit kehidupan bertani mereka.

Suasana ruangan pun menjadi hidup. Fasilitator pelatihan, Lani Ardiansyah, dengan sabar memandu proses identifikasi masalah. “Bapak-ibu, saya sudah menyiapkan tabel pemetaan,” jelas Lani, mencoba menenangkan keriuhan awal. Ia memberi contoh nyata, “Misalnya, masalahnya adalah sulit mendapatkan pupuk organik yang berkualitas dan terjangkau, maka kategorinya adalah input dan saprodi. Silakan jelaskan satu per satu sesuai komoditas masing-masing.”

Namun begitu, pelatihan ini tidak berhenti pada tahap mengeluh. Peserta kemudian diajak melangkah lebih jauh. Mereka diminta menentukan skor keberhasilan advokasi, mulai dari 1 sampai 10, untuk setiap masalah yang telah mereka daftar. “Silakan diskusikan skor ini bersama kelompok,” tambah Lani, “agar kita dapat memetakan potensi keberhasilan langkah advokasi yang akan ditempuh.”

Sesi yang paling berkesan bagi banyak peserta justru adalah simulasi. Di sini, mereka berani mencoba peran-peran yang selama ini mungkin terasa jauh: ada yang jadi wartawan, kepala dinas, pengusaha, bahkan anggota dewan. Latihan sederhana ini berhasil menggambarkan dengan nyata dinamika politik yang rumit. Bagaimana kekuatan modal dan birokrasi sering kali berbenturan dengan kepentingan dasar petani.

Sebagai penutup, tim Gemawan menyusun kesimpulan dari seluruh diskusi. Tapi ini bukan akhir. Justru ini awal dari sebuah aksi nyata. Rencananya, perwakilan petani akan segera melakukan audiensi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Mempawah. Mereka akan membawa serta hasil pemetaan masalah yang telah disusun, sekaligus menyampaikan tuntutan agar kebijakan daerah lebih berpihak pada petani, bukan pada kepentingan ekonomi sempit segelintir orang.

Pada akhirnya, pelatihan ini lebih dari sekadar materi di dalam ruangan. Ia adalah upaya membangun kesadaran politik. Sebuah pengingat bahwa petani bukan hanya penyedia pangan, melainkan warga negara seutuhnya yang berhak memperjuangkan ruang hidupnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar