Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memperkenalkan lagu berjudul “Bung Karno Bapak Marhaenisme” dalam acara Pembekalan dan Bimbingan Teknis Anggota DPRD PDIP seluruh Indonesia masa bakti 2024-2029. Lagu tersebut tidak sekadar menjadi pengiring kegiatan, melainkan disebut memiliki filosofi mendalam sebagai bagian dari upaya pelurusan sejarah bangsa yang dinilai sempat terputus.
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menjelaskan bahwa selama era Orde Baru, Indonesia mengalami apa yang ia sebut sebagai keterputusan sejarah. Salah satu contoh nyata, menurut dia, adalah larangan memperingati hari lahir Pancasila pada 1 Juni 1945. Kondisi ini, lanjut Hasto, membuat bangsa kehilangan orientasi terhadap cita-cita awal pendirian Negara Republik Indonesia.
“Karena itulah dilakukan pelurusan sejarah dan konsolidasi ideologi. Nah, Mas Prananda Prabowo mengambil peran di situ,” kata Hasto kepada wartawan, Senin (1/6/2026).
Lagu tersebut diaransemen ulang oleh Prananda Prabowo, Ketua DPP PDIP Bidang Ekonomi Kreatif sekaligus cucu Proklamator Sukarno. Prananda juga merupakan putra Presiden ke-5 RI dan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Menurut Hasto, aransemen baru ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran publik tentang watak sejati Pancasila.
“Mas Prananda memperkenalkan kembali dengan aransemen yang baru. Itu membangkitkan kesadaran kita tentang watak sejati Pancasila untuk mengubah struktur yang menindas berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kebangsaan, dan kerakyatan itu sendiri,” tuturnya.
Di sisi lain, lagu ini juga bertujuan menghapus stigma negatif yang selama ini sengaja dilekatkan pada istilah “Marhaen”. Hasto menegaskan bahwa Marhaenisme kerap disalahartikan dan dicap sebagai paham komunisme. Padahal, menurut dia, Marhaenisme merupakan realitas sosial yang menjadi latar belakang historis bagi Bung Karno dalam memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia yang terpinggirkan.
“Selama ini kita berbicara Marhaen itu kemudian dicap komunis dan sebagainya, padahal itu adalah suatu realitas sosial yang terjadi sebagai setting historis bagi Bung Karno untuk memerdekakan rakyat Indonesia yang terpinggirkan. Mereka mandiri, tapi mereka harus dibangun kesadarannya,” tutur Hasto.
Selain lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme”, Prananda Prabowo juga menciptakan Himne PDI Perjuangan dan memperkenalkan kembali tradisi pembacaan dedication of life. Namun, ketika ditanya mengenai kemungkinan partai mengusulkan lagu tersebut diputar di acara kenegaraan, Hasto menekankan bahwa hal yang paling utama bagi PDIP adalah penyerapan spirit dari lagu itu dalam kebijakan nyata demi kesejahteraan rakyat.
Artikel Terkait
BULOG Hormati Aspirasi Petani Tebu Blora, Intensifkan Koordinasi Jaga Kelancaran Penyaluran Hasil
Prabowo, Megawati, dan Tokoh Nasional Lainnya Hadiri Pertemuan Sela Peringatan Hari Lahir Pancasila
Pemakaman Militer Ryamizard Ryacudu Digelar Khidmat di TMP Kalibata, Menhan Sjafrie Pimpin Upacara Penghormatan Terakhir
Jimly Asshiddiqie Hadir di Pemakaman Ryamizard Ryacudu, Bersaksi soal Integritas dan Profesionalitas Almarhum