Pertanian sebagai Fondasi Kedaulatan Pangan Umat
Dalam kerangka Islam, ketahanan dan kedaulatan pangan bukan sekadar isu ekonomi, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial dan religious. Sabda Nabi Muhammad SAW: "Tidaklah beriman orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan" (HR. Al-Baihaqi) menjadi landasan etis bagi pentingnya kemandirian pangan. Ketergantungan pada impor pangan dari pihak asing dapat mengikis kedaulatan dan bertentangan dengan semangat kemandirian yang diajarkan Islam.
Imam Ali bin Abi Thalib memberikan penekanan khusus mengenai produktivitas agraria dengan menyatakan: "Barangsiapa memiliki air dan tanah namun tetap miskin, maka dia terjauhkan dari rahmat-Nya." Pernyataan ini merupakan seruan tegas untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal guna mewujudkan kemandirian ekonomi umat.
Relevansi Kontemporer: Revitalisasi Pertanian di Era Modern
Di tengah tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim, revitalisasi sektor pertanian berdasarkan nilai-nilai Islam menjadi semakin relevan. Gerakan back to farm melalui pengembangan pertanian organik, urban farming, dan koperasi tani berbasis komunitas masjid dapat menjadi solusi praktis. Pendekatan ini tidak hanya mengatasi masalah ketahanan pangan, tetapi juga merevitalisasi makna spiritual dalam aktivitas pertanian.
Kesimpulan: Bertani sebagai Jalan Menuju Falah
Bertani dalam perspektif Islam merupakan integrasi antara ibadah spiritual dan praksis sosial-ekonomi. Keterkaitan linguistik antara fallah dan falah mengungkap dimensi transcendental dari profesi agrikultur. Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai pertanian berdasarkan prinsip Islam, umat Muslim dapat membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan sekaligus meraih keberkahan dunia dan akhirat. Aktivitas menanam dan memakmurkan bumi adalah manifestasi dari iman dan jalan menuju kemenangan sejati (falah).
Artikel Terkait
Indonesia Butuh Pemimpin Teladan, Bukan Sekadar Penguasa
Ketika Dewasa Datang, Rasa Tenang Masa Kecil Justru Menghilang
Uang dalam Islam: Bukan Soal Emas, Tapi Soal Kesepakatan
Gempa 5,7 SR Guncang Perairan Papua, Warga Diimbau Tetap Siaga