Bilqis kemudian dibawa ke pemukiman Suku Anak Dalam di Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun. Di sana, ia tinggal di dalam sudung (pondok tradisional) dan dengan cepat akrab dengan lima anak kandung Begendang. Ia pun bermain dan beraktivitas layaknya bagian dari keluarga tersebut.
Pengungkapan Kasus Penculikan dan Penyerahan Bilqis
Kebenaran mulai terungkap kurang dari seminggu kemudian. Ternyata, Bilqis adalah korban penculikan yang sedang dicari. Begendang kemudian didatangi oleh sejumlah tokoh adat, termasuk Tumenggung Sikar (ayah Begendang), Tumenggung Jon, Tumenggung Roni, serta seorang pekerja sosial dari Dinsos PPA Merangin, Nurul Anggraini.
Setelah melalui proses pembujukan oleh Nurul dan para pemimpin adat, Begendang akhirnya bersedia menyerahkan Bilqis. Proses penyerahan ini sempat tidak mudah karena Bilqis sendiri sudah merasa nyaman dan aman di lingkungan barunya.
Bilqis akhirnya dibawa ke Mapolres Merangin. Ia kemudian diantar kembali ke kota asalnya, Makassar, oleh pihak Polresta Makassar, sehingga dapat bersatu kembali dengan keluarganya.
Kisah ini menyoroti kerentanan kelompok masyarakat adat terhadap informasi yang menyesatkan dan pentingnya verifikasi dalam proses adopsi seorang anak.
Artikel Terkait
Jenazah Perempuan Ditemukan Mengapung di Sungai Paria Barru, Diduga Korban Tenggelam Saat Cari Kerang
Kisah Prajurit Ngatijan dan Ilmu Kebal yang Selamatkan Rekan dari Tembakan Belanda di Papua
Polri dan Kemenhaj Bentuk Satgas Khusus untuk Berantas Penipuan Haji dan Umrah
Ledakan Tabung Gas di Pabrik Gizi Ngawi Lukai Satu Pekerja