mulainya.
"Almarhum Bu Emilia Contessa ya katanya apa ya menjadikan Ressa ini sopir, itu gini Mbak. Kita ambil segi positif ya, itu pendidikan untuk anak supaya anak ini tidak manja."
Ia lalu membandingkan angka gaji Ressa dengan biaya hidup di Banyuwangi. Dua setengah juta rupiah per bulan, menurutnya, adalah jumlah yang besar di daerah tersebut.
"Gaji dua setengah (juta) di Banyuwangi besar tuh. Sehingga ketika kayak orang tua ini ngasih pendidikan kayak gitu ke anak, ya apa salahnya? Supaya dia tidak manja cuma minta nadong gini ke orang tua kan ya ndak enak lah,"
Pihak Denada menilai pola didikan seperti itu wajar. Bahkan, Iqbal menyebut ada budaya lain yang lebih keras lagi dalam mendidik anak.
"Bukan mengambil segi negatif 'ini kok tega jadi sopir', waduh salah kaprah itu,"
imbuhnya tegas.
Hidup Mewah di Banyuwangi?
Di sisi lain, Iqbal justru membongkar gaya hidup Ressa. Tuduhan penelantaran, katanya, sangat tidak masuk akal. Faktanya, Ressa disebut hidup berkecukupan, bahkan cenderung hedon untuk ukuran Banyuwangi.
"Lho tadi kan sudah tak jelaskan, Ressa ini bukan hanya sekadar diakui. Dia dibiayai, disekolahkan, difasilitasi,"
Ia menambahkan dengan nada sedikit tinggi,
"Sampeyan kalau tinggal di Banyuwangi mungkin sampeyan tahu, hidupnya hedon lho untuk kelas Banyuwangi."
Semua fasilitas yang dinikmati Ressa, termasuk mobil yang ia pakai, disebut Iqbal sebagai pemberian dari Denada.
"Ressa ini dibiayai, difasilitasi semua ada, dikasih mobil,"
pungkasnya, menutup pembelaannya untuk sang klien.
Artikel Terkait
Kasus Meninggalnya Selebgram Lula Lahfah Ditutup Polisi, Tanpa Autopsi dan Jawaban Pasti
Misteri V: Sosok Kunci di Balik Kematian Lula Lahfah yang Tak Kunjung Hadir
Kenan Yildiz: Dari Bayern ke Juventus, Kisah Pemuda yang Pilih Turki dan Bikin Jerman Menyesal
Tabung Whip Pink di Apartemen Lula Lahfah Dikirim oleh ART