Bayi 9 Bulan di Bekasi Diduga Salah Divaksin, Alami Kejang dan Radang Otak

- Minggu, 05 Juli 2026 | 13:12 WIB
Bayi 9 Bulan di Bekasi Diduga Salah Divaksin, Alami Kejang dan Radang Otak

Seorang bayi perempuan berusia 9 bulan di Kota Bekasi diduga menjadi korban kesalahan pemberian vaksin di puskesmas. Sang bayi yang seharusnya mendapat imunisasi campak justru disuntik vaksin DPT yang sebelumnya sudah lengkap diberikan. Akibatnya, bayi tersebut mengalami demam tinggi, muntah, kejang, dan akhirnya didiagnosis radang selaput otak.

Ibu bayi, Andin, menceritakan bahwa ia telah menyerahkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) kepada petugas sebelum imunisasi dilakukan pada Sabtu, 13 Juni. Buku itu mencatat riwayat imunisasi putrinya yang sudah lengkap. Namun, saat pemeriksaan, Andin merasa ada prosedur yang berbeda dari biasanya. Anaknya tidak diukur tinggi badan, petugas langsung menyuntikkan vaksin tanpa mengecek tanggal kedaluwarsa dan jenis vaksin, serta menyampaikan bahwa sang bayi belum pernah menerima vaksin DPT.

"Saya langsung menunjukkan buku vaksin. Setelah melihat buku itu, bidan hanya diam dan berdiskusi dengan petugas lain. Yang saya sayangkan, tidak ada permintaan maaf ataupun penjelasan kepada saya," ujar Andin.

Beberapa jam setelah imunisasi, bayi Andin mengalami demam tinggi, muntah, sulit makan, menangis, dan kejang selama sekitar 30 menit pada pukul 04.00 dini hari. Setelah dibawa ke rumah sakit dan menjalani CT Scan, hasilnya menunjukkan adanya radang pada selaput otak. "Sekarang memang sudah boleh pulang, tetapi kondisinya masih sering demam dan kadang masih menunjukkan gejala kejang," katanya.

Dinas Kesehatan Akui Kesalahan

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, drh. Satia Sriwijayanti Anggraini, mengakui adanya pemberian vaksin DPT ganda pada kasus tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa berdasarkan kajian ilmiah dan berbagai literatur, vaksin DPT yang diberikan dua kali tidak diketahui menyebabkan radang otak. "Kami mengakui terjadi double vaksinasi. Namun, berdasarkan kajian ilmiah dan literatur, pemberian vaksin ganda tidak menimbulkan bahaya maupun efek samping yang menyebabkan radang otak," ujarnya.

Dokter: Kejang Belum Tentu Akibat Vaksin

Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A (K), menjelaskan bahwa demam merupakan efek samping yang cukup sering muncul setelah imunisasi DPT, terutama vaksin whole-cell yang digunakan dalam program imunisasi nasional. Namun, demam tersebut umumnya bersifat ringan dan akan membaik dalam waktu singkat. "Demam setelah vaksin DPT memang cukup sering terjadi. Namun umumnya tidak sampai menyebabkan kondisi berat seperti radang otak," jelas dr. Reza. Ia menambahkan, setiap kejadian berupa kejang atau gangguan kesehatan lain yang muncul setelah imunisasi akan masuk ke dalam investigasi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Senada dengan dr. Reza, Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan pemberian vaksin DPT ganda secara langsung dapat menyebabkan ensefalitis atau radang otak. "Kalau berdasarkan bukti ilmiah, belum bisa disimpulkan bahwa pemberian vaksin DPT ganda bisa menyebabkan ensefalitis atau radang otak. Pemberian vaksin yang tidak sengaja berulang umumnya lebih sering meningkatkan risiko reaksi lokal seperti nyeri, bengkak, kemerahan di lokasi suntikan, atau demam," jelas dr. Aisya.

Menurutnya, demam usai imunisasi pada sebagian kecil anak memang dapat memicu kejang demam, terutama bila anak memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan kejang. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan radang otak. "Kejang demam berbeda dengan ensefalitis. Kejang demam umumnya tidak meninggalkan gangguan perkembangan atau fungsi kognitif, sedangkan radang otak dapat menimbulkan dampak jangka panjang," ujarnya. dr. Aisya juga menjelaskan bahwa kejang pada bayi dapat disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari infeksi virus atau bakteri, gangguan metabolik, epilepsi, hingga penyebab lainnya. Karena itu, setiap kasus kejang yang muncul setelah imunisasi harus diinvestigasi melalui mekanisme KIPI untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya. "Tidak bisa langsung dikatakan penyebabnya adalah vaksin DPT ganda. Kasus seperti ini harus dievaluasi secara menyeluruh karena bisa saja hanya merupakan koinsidensi," kata dr. Aisya.

Ia pun mengingatkan bahwa dugaan kesalahan pemberian vaksin merupakan kesalahan prosedur pelayanan (medical error) yang harus dievaluasi agar tidak terulang. Namun, hal tersebut tidak berarti vaksin DPT berbahaya atau membuat masyarakat menghindari imunisasi.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags