Konsumsi fruktosa berlebih tidak hanya meningkatkan risiko asam urat, tetapi juga berpotensi memicu hipertensi dan gangguan metabolisme. Hal itu diungkapkan Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Prof Antonius Suwanto.
Fruktosa adalah gula alami yang banyak terdapat pada buah-buahan sangat manis, gula pasir, minuman berpemanis, permen, kue, dan makanan olahan. Menurut Prof Antonius, metabolisme fruktosa berbeda dengan glukosa yang langsung dimanfaatkan sel sebagai energi.
"Glukosa digunakan oleh berbagai sel tubuh sebagai sumber energi. Sementara fruktosa, sebagian besarnya dimetabolisme di hati melalui jalur khusus yang membuatnya dapat langsung diubah menjadi lemak," ujarnya dalam IPB Podcast yang tayang di kanal YouTube IPB TV, Jumat (3/7/2026).
Proses itu membutuhkan energi besar dari ATP. Penggunaan ATP berlebihan menghasilkan senyawa turunan yang kemudian diubah menjadi asam urat. "Kalau ada banyak fruktosa dikonsumsi, itu akan dijadikan lemak dan akhirnya akan ada produk sampingnya berupa asam urat," jelas pakar mikrobiologi, bioteknologi, dan genetika molekuler tersebut.
Lebih lanjut, Prof Antonius mengatakan asam urat tidak hanya berkaitan dengan nyeri sendi atau gout. Senyawa itu juga dapat mengurangi ketersediaan nitric oxide, zat yang menjaga kelenturan pembuluh darah. Ketika kadar nitric oxide menurun, pembuluh darah menjadi lebih kaku sehingga berpotensi meningkatkan tekanan darah atau hipertensi.
Dia menambahkan, mekanisme penyimpanan fruktosa sebagai lemak awalnya merupakan cara tubuh bertahan hidup saat sumber makanan terbatas. Namun, pola konsumsi modern membuat fruktosa kini tersedia melimpah. "Dengan kondisi manusia sekarang ada banyak sumber fruktosa di mana-mana. Kalau tidak mengonsumsinya dengan lebih bijaksana, yang tadinya untuk survival malah bisa menyebabkan penyakit," katanya.
Masyarakat disarankan tetap mengonsumsi buah dan makanan manis secara seimbang. Membatasi asupan fruktosa berlebihan menjadi langkah menjaga kesehatan metabolisme sekaligus menurunkan risiko asam urat, hipertensi, dan obesitas.