Di sebuah salon sederhana, Anastasia Puji Astuti membangun lebih dari sekadar bisnis kecantikan. Tempatnya menjadi pelabuhan kecil yang hangat bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) kelompok yang acapkali tersisihkan, bahkan dipandang dengan curiga. Bagi Anastasia, salon ini adalah wujud kepedulian. Ia ingin mereka punya ruang untuk merasa diterima, dihargai, dan dirawat layaknya keluarga.
“Saya ingin mereka merasa diterima dan dihargai, karena bagi saya, mereka adalah bagian dari keluarga besar yang perlu didukung,” ucap Anastasia.
Dedikasinya tak berhenti di situ. Sebagai kader kesehatan jiwa, ia aktif mendampingi ODGJ sekaligus berupaya merangkul masyarakat sekitar. Tujuannya jelas: mengikis stigma. Menurutnya, mereka bukan sosok yang harus dijauhi, melainkan individu yang memerlukan dukungan dan perhatian ekstra. Perjuangan ini tak mudah, tapi ia jalani dengan tekun.
Di sisi lain, untuk mengembangkan usahanya, Anastasia mendapat suntikan dana dari PNM Mekaar. Bantuan modal itu ia gunakan untuk menambah peralatan dan memperluas jangkauan salonnya.
"Mendapatkan dukungan modal dari PNM Mekaar adalah langkah besar bagi saya," katanya. "Ini bukan hanya tentang mengembangkan usaha salon, tetapi juga untuk terus membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan."
Kini, bisnisnya semakin stabil. Lebih dari itu, dampaknya terasa nyata bagi perekonomian keluarga dan lingkungan sekitarnya. Kisah Anastasia pun menarik perhatian manajemen PNM.
Sekretaris Perusahaan PNM, Dodot Patria Ary, menyampaikan apresiasi. "Kisah Ibu Anastasia adalah teladan yang menginspirasi banyak orang, termasuk kami di PNM," ungkap Dodot.
Ia menambahkan, "Kepeduliannya terhadap ODGJ menunjukkan bahwa keberhasilan bukan hanya diukur dari materi, tetapi juga dari dampak sosial yang bisa kita berikan kepada sesama. Kami bangga dapat berkontribusi dengan memberikan dukungan modal usaha melalui Mekaar."
Memang, di balik tirai salon itu, Anastasia telah membuktikan sesuatu. Bahwa gerakan ekonomi inklusif bisa dimulai dari hal-hal sederhana: dari sebuah kursi salon, percakapan yang menenangkan, dan keyakinan bahwa setiap orang berhak untuk dipulihkan harga dirinya.
Artikel Terkait
Rossa Bantah Isu Gagal Operasi Plastik, Ungkap Dampak Emosional dan Langkah Hukum
Sholawat Haji dan 7 Amalan Lain yang Pahalanya Disejajarkan dengan Ibadah Haji
Ruben Onsu Dilaporkan Jadi Korban Penipuan Bisnis Mukena Rp5,5 Miliar
Pemerintah Jatim dan Industri Bahas Penyelarasan Kurikulum Vokasi dengan Kebutuhan Pasar